Senin, 31 Januari 2011

Menulis Butuh Proses Pendewasaan

Bismillah...

Ternyata menulis butuh proses pendewasaan. Kemaren saya berdiskusi dengan seorang dosen yang telah saya anggap sebagai seorang Bunda. Beliau berkata, "Ketika kita menuliskan kata-kata dalam sebuah tulisan, maka kata-kata itu bukan hanya milik kita lagi namun menjadi milik publik". Pada saat itu akan banyak pendapat-pendapat yang berbeda dari para pembaca. Disana saya mulai menyadari bahwa butuh keberanian dan tanggung jawab atas keilmuan yang kita miliki, untuk menanggapi respon-respon yang berbeda dari masing-masing individu. Kita juga membutuhkan kesportifan. Jika ada kekurangan-kekurangan dalam tulisan yang kita hasilkan maka kita harus berani jujur mengakui kesalahan dan berusaha meng-up grade diri kearah yang lebih baik. Dan butuh kerendahan hati dalam menerima kebenaran dan ilmu yang bisa datang dari siapa saja termasuk dari para pembaca... :)

Ya Allah, bimbing kami menuju proses pendewasaan dalam bidang penulisan, Aamiiin Yaa Rabbal'alamiin...

HAMASAH...


Bukittinggi, 31/1/2011.

Minggu, 30 Januari 2011

Maafkan

Bismillah...

Ingin melesat jauh ke tujuan akhir dalam bidang penulisan, namun saya masih butuh waktu untuk berproses kearah tersebut hingga untuk sementara saya masih butuh kesiapan mental untuk memiliki keberanian mengekspos diri ke ranah publik, karena menyangkut nilai-nilai yang saya bangun sebelumnya. Alhasil beberapa tulisan disini saya hapus, dan beberapa lainnya saya simpan dicatatan.

Maafkan saya yang masih butuh proses... Insya Allah jika sudah memiliki kesiapan saya akan menulis kembali...

Termasuk untuk sementara waktu saya ingin istirahat sejenak di fb, karena butuh rehat sejenak dari rutinitas menulis dan interaksi di dunia maya...

Maafkan... Dan saya mengucapkan Terimakasih kepada para guru yang telah membimbing saya sampai pada titik ini...

Semoga Allah SWT memberikan yang terbaik, Aamiiin Yaa Rabbal'alamiin...

Salam


Subhanallah...

All Praises To Allah...


HAMASAH...

*****

Dari saya yang sedang belajar bertumbuh... :)

Terimakasih sebelumnya atas perhatian dan pengertian dari teman-teman... :)


Bukittinggi, 30/1/2011.

Sabtu, 15 Januari 2011

Subhanallah… Indahnya Nostalgia Di Kampus UNAND


Bismillah...

Judul tulisan ini mengingatkan saya pada sebuah perjuangan yang pernah saya alami beberapa tahun lalu. Pada saat saya mulai belajar menapaki dunia akademisi untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dari jenjang pendidikan sebelumnya di kampus UNAND, Padang, Sumatera Barat atau dikenal juga dengan sebutan Kampus Hijau karena kampus UNAND itu terletak di atas sebuah bukit yang bernama “bukit karimuntiang”. Bukit ini ditumbuhi oleh banyak tumbuhan-tumbuhan hijau dan pemandangannya sangat asri sekali. Jika anda berkunjung ke kampus UNAND maka anda akan menikmati sebuah pemandangan yang Unik dimana terdapat  perpaduan antara sebuah perbukitan yang hijau dan pemandangan laut dikejauhan yang terletak di ujung kota Padang. Maksud saya ketika anda melihat kota Padang dari atas bukit karimuntiang maka anda akan dapat melihat secara langsung tata letak kota padang secara keseluruhan mulai dari susunan rumah-rumah penduduk, rute-rute jalan, gedung-gedung perkantoran, dan lain sebagainya… walaupun hanya dapat dinikmati dalam skala kecil namun lebih riil dari pada hanya melihat sebuah peta. Jika kita melihat dari ketinggian maka kota Padang itu seperti di bentengi oleh bukit-bukit yang berjejer di tepi kota namun di sisi lain ada batas antara benteng-benteng perbukitan dengan perkotaan… Apa itu? Anda mau tau? Jawabannya adalah Laut biru yang terhampar luas sejauh mata memandang. Indah sekali… Suhanallah, Penciptaan yang Sempurna dari Sang Pencipta Semesta Alam.

Uniknya saya mulai menikmati berada di kampus Hijau itu justru pada saat-saat tahun akhir. Bagi saya tahun awal merupakan masa-masa adaptasi dari dunia yang jauh dari bayangan saya sebelumnya. Pada saat SMU saya justru berfikir bahwa kampus itu tempatnya para mahasiswa yang terpelajar, selalu membawa buku kemana-mana, jika berbicara satu sama lain mereka senantiasa mendiskusikan tentang keilmuan yang mereka gali dari masing-masing bidang studi yang mereka geluti, hingga pada saat SPMB saya pun agak minder untuk bersaing dengan teman-teman lainnya yang nilai indek pretasinya semasa SMU lebih bagus dari indek prestasi yang saya terima dari hasil proses belajar yang saya dapatkan selama bertahun-tahun. Namun setelah hasil dikeluarkan dan Allah SWT menempatkan saya pada sebuah kampus yang bernama UNAND, saya mulai mendapati sistem-sistem akademisi yang kurang mengena di hati (tak perlu saya menyebutkannya di sini, bagi anda yang penah mengalami masa-masa itu, saya yakin anda mengetahui sendiri jawabannya). Namun di tahun-tahun akhir masa perkuliahan saya mulai menyadari banyak hal yang telah berubah pada diri saya dan pada lingkungan sekitarnya (I Feel Grow with Knowledge, Alhamdulillah Ya Allah). Entahlah apakah itu yang disebut dengan  World View (cara kita memandang dunia dan alam sekitarnya).

Bagi saya bertemu dengan orang-orang yang memiliki keilmuan dan keahlian dibidangnya, serta bisa berdiskusi dan saling berinteraksi dalam berbagi ilmu, saya merasa seperti sebuah pohon yang tandus kemudian dirawat oleh para petani, diberi pupuk kompos, disirami setiap hari, dibersihkan semak-semak belukar yang mengelilingi pohon yang tandus tersebut dan akhirnya pohon tandus itu kembali subur, memunculkan pucuk-pucuk daun yang hijau, batang-batang yang dulunya kurus kemudian diameternya mulai berkembang, ranting-ranting yang dulunya sedikit lalu bertambah banyak, dan yang terpenting akarnya yang dulu mudah dicabuti maka mulai menggeliat pada kedalaman tanah untuk mencari asupan gizi untuk mensuplai makanan dari akar ke batang, ke rating, ke daun-daun… namun yang saya pertanyakan “sudahkah pohon itu berbuah dan menghasilkan manfaat bagi banyak orang?”. Entahlah…Wallahu’alam. Semoga pohon itu tak hanya berhenti bertumbuh pada proses perkembangan diameternya saja, namun kelak saya berharap pohon itu akan tetap bertumbuh dan mulai memunculkan bunga yang indah dan bunga itu pelan namun pasti mulai membentuk cikal bakal buah yang diproses dari hasil fotosintesis, yang awalnya kecil, seiring berjalannya waktu diameter buah itu mulai berkembang dan pada saat waktunya panen, sang petani bisa memetik hasil dari usahanya merawat pohon tersebut. Dan ajaibnya lagi ia tak hanya berhenti mengasilkan buah pada saat itu saja, namun pohon itu selalu menghasil manfaat bagi banyak orang setiap saat. Hingga suatu saat Allah SWT menakdirkan pohon itu tutup usia dan dirindukan oleh orang-orang yang telah mengambil manfaat darinya walaupun hanya sekedar untuk berteduh di bawah teriknya matahari…Semoga, Kabulkanlah Yaa Allah (Aamiiin).

*****

Perumpamaan sebuah pohon itu terinspirasi dari sebuah pohon yang pernah saya tanam di UNAND pada saat MOS (Masa Orientasi Mahasiswa tahun 2002). Sebuah pohon yang bibitnya disediakan oleh pihak UNAND dan masing-masing mahasiswa diwajibkan menanam satu pohon di sebuah lembah yang dibawahnya mengalir sungai kecil. Jika ingin menanam pohon itu kita harus menuruni lembah dan memancang pohon itu pada lubang-lubang yang telah disediakan oleh para pekerja yang bertugas membersihkan lembah tersebut dari semak belukar. Jika anda memasuki gerbang kampus UNAND dan menoleh ke sisi kanan jalan, maka anda akan menemui sebuah lembah yang dipenuhi oleh tanaman pohon Jati (Tunggu!!! Pohon Jati berbuah nggak ya? xixi…perumpamaan yang saya maksud bukan pohon jati namun sebuah pohon yang menghasilkan buah, apa saja seperti Pohon Mangga,dll… kecuali buah yang memiliki zat berbahaya untuk dikonsumsi, bukan itu maksud saya).
Setiap kali saya melewati lembah itu (Kampus UNAND), saya sering bertanya pada diri saya sendiri , " Sudahkah saya bertumbuh seperti sebuah pohon yang pernah saya tanam beberapa tahun lalu dilembah itu?"

NB:
Semoga hari ini lebih baik dari hari sebelumnya, dan hari esok lebih baik dari hari ini, Aamiiin Yaa Rabbal’alamiin... :)

SEMANGAT !!!


Bukittinggi, hari Sabtu tanggal 15/1/2011.       

Memupuk Jiwa Sportifitas

Bismillah...

Belajar sportif itu mudah teman, namun tak semudah membalik telapak tangan. Ada banyak proses yang harus dilalui untuk memupuk jiwa sportifitas... (Nanti saya jelaskan ya...)

Ada sebuah formula simpel yang bisa digunakan untuk memupuk jiwa sportifitas, yakni:

* Akui kesalahan jika Anda salah...
* Akui kebenaran jika Anda benar...
* Simpelkan... :) 

Untuk menerapkan formula simpel ini butuh proses teman, dan proses itu membutuhkan waktu. Seberapa lama proses yang kita butuhkan tergantung tekad dan kemauan kita sendiri dalam menempa diri kearah yang lebih baik.

Allah SWT menciptakan dua buah software/ dua kecendurungan dalam diri kita yakni: jalan fujur (jalan keburukan) dan jalan taqwa (melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya). Dua kecendurungan ini akan selalu bertarung dalam diri kita. Manakah yang akan menjadi pemenang dari dua kecendrungan tersebut? Jawabanya adalah "Tergantung diri kita" bahasa kerennya sih "It's Depend of You". Jika kita berhasil mengikuti hati nurani maka jalan Taqwa menjadi pemenangnya, namun jika kita mengikuti nafsu duniawi maka jalan fujur-lah yang mengelabui hati. 

Dua kecenderungan ini takkan pernah berhenti bertarung dalam diri kita hingga akhir hayat. Allah SWT akan selalu menguji kita dengan ujian-ujian, cobaan-cobaan, musibah-musibah dalam mengarungi hidup ini.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-'Ankabuut [29]: 2-7, a.l :

2. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?

3. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

4. Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput (dari azab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu.

5. Barangsiapa yang menghadap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

6. Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

7. Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan. 

Semoga penjelasan dari firman Allah yang termaktub dalam Al-Qur'anul Karim ini bisa menjadi perenungan bersama bagi kita untuk selalu berusaha memupuk jiwa sportifitas. Dan satu hal yang perlu diingat, memupuk jiwa sportifitas itu butuh proses teman, walau menyakitkan sekalipun namun itulah rintangan yang harus kita hadapi untuk melakukan perubahan kearah yang lebih baik. 

SEMANGAT !!!

*****

Teman... Saya dapat rumus baru ni dari saudara seperjuangan, nama rumusnya adalah rumus ABC. Mau tau? Yuk kita baca... :) 

A = Ambil yang baik
B = Buang yang buruk
C = Ciptakan yang baru

Wassalam,


Bukittinggi, terbitan awal di CB tanggal 9/1/2011.

Jarak Yang Jauh Terasa Dekat DI Hati

Ada saat dimana ketika kamu merasakan suatu perjalanan panjang itu terasa dekat. Di lain waktu kamu merasa perjalanan panjang itu begitu jauh namun hati mu merasa dekat dengan suatu daerah yang ingin kamu tuju. Dulunya daerah itu merupakan tempat dimana kamu bertumbuh, menggali potensi diri, membangun social network, dsb. Ia merupakan daerah yang menjadi momentum tempat dirimu mulai mencari dan menemukan jati diri. Kerinduan kian membuncah dalam dirimu untuk kembali berkunjung ke daerah itu, namun sebuah kondisi tak mengizinkan mu untuk beranjak pergi ke daerah itu. Kondisi itu tak gampang diajak berkompromi. Ia tak kenal kata negosiasi. Ia datang dan pergi sesuka hati. Namun ia mengikis segala noda di hati.

Kamu adalah aku...
Ia adalah sesuatu yang tak terperi...

Semoga suatu saat Allah SWT menghilangkan kondisi itu dari dirimu, sehingga kamu bisa beranjak pergi ke daerah yang ingin kamu tuju... Aamiiin :)

Kerinduan akan Kota itu...


Bukittinggi, terbitan awal di CB tanggal 25/11/2010.

waspadai Penyakit SMS

Bismillah...

Saya menemukan istilah penyakit SMS ini pertama kali ketika saya melakukan penelitian tentang "Upacara Balimau", di Kenagarian Indrapura, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Istilah ini dipopulerkan oleh seorang Camat di Kenagarian Indrapura yang sedang memberikan kata pengantar dalam acara "Upacara Balimau" dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Awalnya saya bertanya-tanya dalam hati, apa itu 'Penyakit SMS'? Tak lama kemudian Pak Camat mulai menjelaskan kepada masyarakat setempat dengan cara yang khas dan sedikit formil. Beliau berkata, "Bapak-bapak, Ibuk-ibuk jangan sampai masyarakat kita terkena 'penyakit SMS', Senang Melihat orang lain Susah, Susah Melihat orang lain Senang...". Masyarakat yang berkumpul saat itu pun mendengarkan dengan seksama. Namun setelah 3 tahun saya bolak-balik ke Negeri itu...kesan yang saya temukan pada masyarakatnya sangat luar biasa. Mereka memiliki keramah-tamahan yang cukup memikat hati, open mind terhadap pembaharuan, menjaga kekompakan dan keakraban dalam bekerjasama dan masih banyak lagi yang tak bisa saya ungkapkan satu persatu dalam catatan ini. Mungkin salah satunya karena daerah tsb dahulunya adalah merupakan daerah Kerajaan Indrapura ternama di Pesisir Selatan yang memiliki pelabuhan Internasional dimasanya dan dikunjungi oleh berbagai Kerajaan di Asia maupun benua lainnya. Sehingga, jika ada orang baru yang berkunjung ke Negeri itu, menjadi sesuatu hal yang lumrah bagi mereka dan menyambutnya dengan kehangatan. Selama berada di sana, saya seakan merasa menemukan keluarga baru, dan nilai-nilai persaudaraan itu terjalin dengan sendirinya sampai detik ini dan berharap akan berlanjut hingga akhir nanti.

Setelah saya menyelesaikan studi di sebuah perguruan tinggi, saya sempat bekerja beberapa lama di sebuah kota tempat saya kuliah dulu. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman karena hasrat kerinduan berkumpul dengan keluarga, setelah sekian lama berpisah dari keluarga. Setelah +/- 1 tahunan berdomisili di desa tercinta ini, saya menemukan gejala 'Penyakit SMS' tsb mulai mewabah di desa ini. Desa yang dahulunya saya kenal dengan pemandangan alamnya yang indah, hamparan sawah hijau yang luas sejauh mata memandang, bukit-bukit berbaris menyambut kedatangan siapa saja yang melaluinya, tanahnya yang subur sebagai sumber mata pencaharian warganya, udara sejuk dan segar yang membuat hasrat makan dan istirahat jadi bertambah. Kini, lambat laun kepribadian masyarakatnya mulai berubah nilai-nilai luhur yang dulunya melekat pada negeri ini memulai tergerus oleh budaya materialisme, nilai-nilai persaudaraan kian memudar, masyarakatnya mulai berlomba-lomba mengejar prestise, baik harta, kedudukan, pangkat maupun jabatan. Mereka cenderung sering mempermasalahkan hal-hal kecil, semisal perkara pembagian warisan, mengambil hak yang bukan miliknya, mengeluarkan kata-kata sarkasme tanpa memikirkan perasaan orang yang ada disekitarnya. Mengumbar aib sesama tanpa mengingat kekurangan dirinya sendiri, musyawarah dan mufakat yang sudah mulai ditinggalkan demi kepentingan sebagian golongan, orang yang vokal dan dominanlah yang didengarkan walaupun minim ilmu, dan nilai "raso jo pareso" yang kian memudar, dsb. 

Saya yakin tak semua masyarakat di desa ini memiliki kepribadian seperti yang saya terangkan diatas. Masih ada banyak orang yang memegang prinsip-prinsip kebenaran dan kebaikan di desa ini. Namun saya sebagai orang biasa yang menjadi bagian dari komunitas ini, berharap akan ada perubahan signifikan dikemudian hari dari generasi-generasi mudanya yang telah menimba ilmu dan melang-lang buana ke Negeri lain bahkan ke Negara lain untuk memajukan Negeri ini dan menaburinya dengan nilai-nilai kebijaksanaan dikampung halaman tercinta. 

Bayangkan jika gejala 'Penyakit SMS' ini mulai menjalar ke ratusan desa yang tersebar di Indonesia. berapa tahun kemunduran yang akan terjadi dalam membangun sebuah peradaban bangsa?

Jika saya mengajukan sebuah pertanyaan dengan dua buah pilihan jawaban manakah yang menjadi pilihan anda:

1). Penyakit SMS, yaitu Senang Melihat orang lain Susah & Susah Melihat orang lain Senang,

2). SMS saja, yaitu Senang Melihat orang lain Senang.

Jika anda menjawab pilihan pertama maka saya akan mengucapkan:
SELAMAT...anda masih punya kesempatan untuk merubah diri, selama Allah SWT masih memberikan anda kesempatan untuk menghirup udara Nya.

Jika anda memilih pernyataan yang kedua maka saya akan mengucapkan:
SELAMAT...hanya satu kata yang akan saya berikan yaitu LANJUTKAN... :) 

Disaat kita membuka diri melakukan perubahan kearah yang lebih baik dari hal-hal negatif yang membelenggu diri kita saat ini, maka tunggulah...keajaiban demi keajaiban akan datang menghampiri anda dalam kebaikan.

Keep Spirit for All of You, Wherever You Are... :) 


Bukittinggi, terbitan awal di catatan fb (CB) tanggal 16/11/2010. 

Kamis, 13 Januari 2011

Wasiat Hasan Al-Bana

Bismillah...

Hasan Al-Bana adalah salah seorang pendiri gerakan Ikwanul Muslimin di Mesir. Hasan Al-Bana mendirikan gerakan Ikhwanul Muslimin pada tahun 1928 dengan sekelompok kecil orang yang ingin menyingkirkan kontrol Inggris atas Mesir dan membersihkan semua pengaruh Barat dinegerinya dengan alasan kolonialisme telah merampok Identitas Muslim bangsa mereka.

Gerakan Ikhwanul Muslimin terus diarahkan pada kemajuan sejarah - ide bahwa negara-negara Muslim harus mengejar ketertinggalan terhadap Barat, tetapi melakukannya tanpa kehilangan identitas Islamnya. Mereka mengajak umat Islam ke era keemasan di abad ke-7, dan mereka mendukung kembalinya Islam dalam kehidupan modern. (sumber: www.eramuslim.com)

Nah, itulah sekilas keterangan tentang Hasan Al-Bana dan gerakan Ikhwanul Muslimin yang melegenda dikalangan umat muslim hingga saat ini. Pemikiran-pemikiran Hasan Al-Bana yang cemerlang pun sampai saat ini masih diteladani dan diterapkan oleh banyak gerakan-gerakan Islam di dunia.

Ada beberapa wasiat terkenal dari Hasan Al-Bana yang pernah beliau kemukakan bagi umat muslim sedunia sebelum beliau menghirup nafas terakhir dan berpisah dari permukaan bumi. Wasiat apa itu? Mari kita simak lekat-lekat wasiat yang pernah beliau utarakan bagi umat Islam sedunia... :)

WASIAT HASAN AL-BANA

Bacalah, renungkan, dan amalkan:

* Dalam kondisi bagaimanapun, segera dirikanlah shalat ketika mendengar adzan.

* Baca atau dengarlah Al-Qur'an dan ingatlah Allah.

* Jangan kau habiskan waktumu pada hal-hal yang tak berguna.

* Berusahalah untuk bisa berbicara dengan bahasa Arab secara fushhah (baik), sebab ia termasuk dari pembelajaran Islam.

* Jangan banyak berdebat dalam setiap urusan bagaimanapun bentuknya, sebab pamer kepandaian dan riya' itu tidak mendatangkan kebaikan sedikitpun.

* Jangan banyak tertawa, karena hati yang selalu berinteraksi dengan Allah adalah hati yang tenang dan khusyu'.

* Jangan terlalu banyak bergurau, karena umat yang gigih berjuang tidak mengenal selain kesungguhan.

* Jangan mengeraskan suara melebihi yang dibutuhkan oleh pendengar, sebab itu merupakan kecerobohan dan menyakitkan orang lain.

* Jauhi dari menggibah orang (bergosip) dan menjelek-jelekkan kelompok atau organisasi, dan jangan membicarakan selain kebaikan saja.

* Kenalkan dirimu kepada saudara-saudaramu seiman dan seperjuangan, walaupun engkau tidak diminta, sebab azas dakwah kita adalah mahabbah (kecintaan) dan saling mengenal.

* Ketahuilah, bahwa kewajiban itu lebih banyak daripada waktu yang terluang, maka bantulah saudaramu untuk menggunakan waktunya dengan sebaik-baiknya. Dan jika engkau punya tugas, selesaikanlah segera!

Subhanallah... Inilah wasiat Hasan Al-Bana untuk generasi selanjutnya, maka kewajiban kitalah para generasi umat Islam berikutnya untuk mulai merenungi dan mengamalkan beberapa wasiat Hasan Al-Bana yang mengandung kebenaran dan kemaslahatan bagi Umat Islam di dunia.

*****

Ya Allah...
Terimalah amal ibadah beliau dan semangat perjuangan beliau dalam menegakkan syari'at-Mu semasa hidup beliau. Berikanlah beliau sebaik-baik tempat disisi-Mu, Aamiiin.

Ya Allah...
Bimbinglah kami umat Islam ini untuk selalu menggingat Mu dalam keadaan dan kondisi apa pun, baik sedih maupun bahagia. Ingatkan kami akan kelalaian yang telah kami lakukan selama ini dalam menjalankan perintah-Mu dan menjauhi larangan-Mu. Satukan hati kami dalam ikatan Ukhuwah Islamiyah dan kokohkan kami dalam cinta-Mu yang tak bertepi, Aamiiin.


Bukittinggi, 13/1/2011.