Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Februari 2011

Forgive, Yes, Forgive

Bismillah...

Teman... Ada masa dimana suatu saat kamu akan menjumpai sebuah situasi yang membuat mu berjuang untuk berdamai dengan diri sendiri. Tentunya ada banyak hal yang menyebabkan situasi itu terjadi, misalnya saja jika suatu ketika kamu berbenturan dengan pribadi yang berbeda dengan karaktermu, dengan hal-hal prinsipil yang telah kamu bangun sejak lama dan telah menjadi bagian dari dirimu, cita-cita yang masih terendap dan belum terealisasi dengan baik, dsb.

Terkadang lebih mudah menyelesaikan problem dengan orang disekitar kita, dibandingkan menyelesaikan problem dengan diri sendiri. Sebagaimana ungkapan yang pernah saya dengar dari salah seorang pembicara terkenal bernama Doug Wead, ia adalah mantan asisten khusus presiden George Bush di Gedung Putih. Pada saat itu saya berkesempatan bertemu dengan Mr. Doug Wead dalam sebuah Leadership seminar di Istora Senayan, Jakarta. Pada waktu itu ada satu ungkapan yang beliau utarakan dan cukup mengena bagi saya, beliau berkata bahwa: "The Problem Is Not The Problem, But The Problem Is You" yang artinya: " Masalah bukanlah masalah, namun masalahnya adalah kamu". Sejak mendengar ungkapan ini saya mulai menyetujuinya. Apa pun problem yang kita hadapi, kita lah yang bertanggung jawab untuk mencari solusi dan menyelesaikannya. Setujukan teman-teman?

Namun, sayangnya saat ini justru banyak orang yang hanya bisa membeberkan masalah dan hanya sedikit orang yang berusaha mencari solusi serta penyelesaian dari kendala yang dihadapinya. Semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang selalu berusaha mencari solusi dan penyelesaian dari kendala yang dihadapi, Aamiiin.

Teman... Saya jadi ingat beberapa ayat yang terdapat dalam Al-Qur'anul Karim yang berhubungan dengan pembahasan ini. Firman Allah, antara lain :

* Surat Asy-Syura (42): 36-43

36. Maka sesuatu yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal.

37. Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.

~ Kewajiban Bermusyawarah Tentang Masalah Keduniaan

38. Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.

~ Bersabar Dan Memberi Maaf Lebih Baik Daripada Mengambil Pembalasan

39. Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri.

40. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggunggan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.

41. Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya tidak ada satu dosapun terhadap mereka.

42. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.

43. Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan (mulia).

Semoga firman Allah yang termaktup dalam Al-Qur'anul karim ini bisa menjadi pedoman, pegangan, dan panutan bagi kita untuk selalu bersabar pada segala kondisi, belajar memaafkan serta berdamai dengan diri sendiri dan bersyukur atas segala nikmat yang telah dikaruniakan oleh Allah SWT kepada kita, Aamiiin... :)

***

¤Wisdom Of The Day¤

Face Your Problem And Your Problem Will Far Away From You. (Jim Dornan)

Subhanallah...
Walhamdulillah...
Wallaa illaaha illaallaah...
Wallahu akbar...

HAMASAH...
SEMANGAT...

*****


Selamat memperingati Maulid Baginda Nabi Muhammad SAW, Saudaraku Seiman & Seislam... (yang bertepatan pada tanggal 12 Rabiul Awal 1432 H)

Saudara-saudaraku... Mohon Maaf Lahir & Bathin ya...

PEACE... \(^_^)/ \/


Bukittinggi, 15/2/2011.

Selasa, 08 Februari 2011

Jurnalisme Adalah Karya Sastra Yang Terburu-buru

Bismillah...

Setujukah Anda bahwa: Jurnalisme adalah karya sastra yang terburu-buru?

Pertama kali saya menemukan istilah ini ketika melihat sebuah film yang dibintangi oleh Julia Robert. Pada saat itu ia memiliki seorang teman laki-laki yang berprofesi sebagai jurnalis/wartawan. Ia bertugas mencari berita yang up to date, mewawancarai pihak yang bersangkutan, dan menulis berita serta mempublikasikannya ke sebuah media massa. Pada saat ia mewawancarai seorang nara sumber disebuah kafe, pada saat itulah ia mengatakan bahwa, "Jurnalisme adalah karya sastra yang terburu-buru". Awalnya saya berpikir sejenak tentang salah satu ungkapan ini, namun setelah dipikir-pikir, ternyata ada benarnya juga.

Saya tak terlalu mengenal hal-hal yang berhubungan dengan dunia jurnalisme, namun menurut sekilas pandang, terkadang para wartawan hanya berusaha mencari berita-berita yang sebenarnya merupakan realita biasa dalam kehidupan. Namun, pemberitaannya terkadang terkesan terlalu mendramatisir agar terkesan sensasional (hidup ini biasa-biasa saja lah, Be Optimis dan hadapi hidup dengan senyuman, Insya Allah...).

Saya yakin ada banyak jurnalis yang masih memegang teguh nilai-nilai kejujuran dan meliput berita untuk memberikan pencerdasan dan pencerahan pada masyarakat, namun tak tertutup kemungkinan beberapa dari mereka ada yang hanya berusaha kejar tayang karena dibatasi oleh satu kata yang bernama "deadline", maksudnya saat terakhir batas waktu memasukkan berita. Dan ada banyak faktor yang menyebabkan jurnalisme kehilangan nilai-nilai kejernihannya sebagai mercusuar yang menerangi dan menjadi petunjuk jalan bagi masyarakat, bisa jadi karena ditunggangi oleh kekuasaan, politik, pihak-pihak kepentingan dan lain-lain.

Bagi para pembaca yang hoby meliput berita, baik dari media masa maupun media elektronik pintar-pintarlah memilih mana berita yang layak dikonsumsi dan mana yang tak layak dikonsumsi. Karena in put (masukan) positif dan negatif itu berlomba-lomba setiap harinya menghampiri kita. Jika ingin memiliki pikiran yang positif ( Positive Thinking), maka perbanyaklah memasukan in put (masukan) positif pada pikiran kita, baik dengan membaca kitab suci Al-Qur'anul Karim, buku-buku yang bermuatan nilai-nilai positif, mendengarkan kaset-kaset berisikan motivasi atau tausiyah keagamaan dari Ustadz yang kredibel dan capable dibidangnya, melihat film-film dokumenter yang menyingkap tentang hal-hal yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, dan bergaullah dengan orang-orang shaleh serta memiliki ilmu pengetahuan, agar kita bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena selayaknyalah jika Allah SWT memberikan kita nikmat berupa kelebihan ilmu, maka seharusnya ilmu itulah yang memaksa kita untuk mencari nilai-nilai kebenaran dan kebaikan dan menyadari akan kebesaran Allah SWT yang terdapat alam semesta ini. Dan Ke- Maha Besaran Allah SWT bisa dibaca/dilihat dari tanda-tanda keajaiban penciptaan alam semesta yang Maha Sempurna ini.

Sehebat-hebat manusia, belum ada satupun manusia yang mampu menciptakan seekor semut sekalipun dan ia pun tak mampu memprediksi tentang kehidupan dan berpulangnya ia ke Rahmatullah (Sang Maha Pencipta Alam Semesta).

Firman Allah:

"Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan. Tetapi mereka yang kafir berkata: "Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini? "Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang dibiarkan-Nya sesat, dan dengan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu selain orang-orang yang fasik." (QS. Al-Baqarah [2]: 26)

"Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui. " (QS. Al-'Ankabuut [29]: 41)

Wallahu'alam bisawab...

*****

Subhanallah...
Walhamdulillah...
Wala illa ha illallah...
Wallahu akbar...

HAMASAH...


Bukittinggi, 8/2/2011.

Senin, 31 Januari 2011

Menulis Butuh Proses Pendewasaan

Bismillah...

Ternyata menulis butuh proses pendewasaan. Kemaren saya berdiskusi dengan seorang dosen yang telah saya anggap sebagai seorang Bunda. Beliau berkata, "Ketika kita menuliskan kata-kata dalam sebuah tulisan, maka kata-kata itu bukan hanya milik kita lagi namun menjadi milik publik". Pada saat itu akan banyak pendapat-pendapat yang berbeda dari para pembaca. Disana saya mulai menyadari bahwa butuh keberanian dan tanggung jawab atas keilmuan yang kita miliki, untuk menanggapi respon-respon yang berbeda dari masing-masing individu. Kita juga membutuhkan kesportifan. Jika ada kekurangan-kekurangan dalam tulisan yang kita hasilkan maka kita harus berani jujur mengakui kesalahan dan berusaha meng-up grade diri kearah yang lebih baik. Dan butuh kerendahan hati dalam menerima kebenaran dan ilmu yang bisa datang dari siapa saja termasuk dari para pembaca... :)

Ya Allah, bimbing kami menuju proses pendewasaan dalam bidang penulisan, Aamiiin Yaa Rabbal'alamiin...

HAMASAH...


Bukittinggi, 31/1/2011.

Sabtu, 15 Januari 2011

Memupuk Jiwa Sportifitas

Bismillah...

Belajar sportif itu mudah teman, namun tak semudah membalik telapak tangan. Ada banyak proses yang harus dilalui untuk memupuk jiwa sportifitas... (Nanti saya jelaskan ya...)

Ada sebuah formula simpel yang bisa digunakan untuk memupuk jiwa sportifitas, yakni:

* Akui kesalahan jika Anda salah...
* Akui kebenaran jika Anda benar...
* Simpelkan... :) 

Untuk menerapkan formula simpel ini butuh proses teman, dan proses itu membutuhkan waktu. Seberapa lama proses yang kita butuhkan tergantung tekad dan kemauan kita sendiri dalam menempa diri kearah yang lebih baik.

Allah SWT menciptakan dua buah software/ dua kecendurungan dalam diri kita yakni: jalan fujur (jalan keburukan) dan jalan taqwa (melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya). Dua kecendurungan ini akan selalu bertarung dalam diri kita. Manakah yang akan menjadi pemenang dari dua kecendrungan tersebut? Jawabanya adalah "Tergantung diri kita" bahasa kerennya sih "It's Depend of You". Jika kita berhasil mengikuti hati nurani maka jalan Taqwa menjadi pemenangnya, namun jika kita mengikuti nafsu duniawi maka jalan fujur-lah yang mengelabui hati. 

Dua kecenderungan ini takkan pernah berhenti bertarung dalam diri kita hingga akhir hayat. Allah SWT akan selalu menguji kita dengan ujian-ujian, cobaan-cobaan, musibah-musibah dalam mengarungi hidup ini.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-'Ankabuut [29]: 2-7, a.l :

2. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?

3. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

4. Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput (dari azab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu.

5. Barangsiapa yang menghadap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

6. Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

7. Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan. 

Semoga penjelasan dari firman Allah yang termaktub dalam Al-Qur'anul Karim ini bisa menjadi perenungan bersama bagi kita untuk selalu berusaha memupuk jiwa sportifitas. Dan satu hal yang perlu diingat, memupuk jiwa sportifitas itu butuh proses teman, walau menyakitkan sekalipun namun itulah rintangan yang harus kita hadapi untuk melakukan perubahan kearah yang lebih baik. 

SEMANGAT !!!

*****

Teman... Saya dapat rumus baru ni dari saudara seperjuangan, nama rumusnya adalah rumus ABC. Mau tau? Yuk kita baca... :) 

A = Ambil yang baik
B = Buang yang buruk
C = Ciptakan yang baru

Wassalam,


Bukittinggi, terbitan awal di CB tanggal 9/1/2011.

waspadai Penyakit SMS

Bismillah...

Saya menemukan istilah penyakit SMS ini pertama kali ketika saya melakukan penelitian tentang "Upacara Balimau", di Kenagarian Indrapura, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Istilah ini dipopulerkan oleh seorang Camat di Kenagarian Indrapura yang sedang memberikan kata pengantar dalam acara "Upacara Balimau" dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Awalnya saya bertanya-tanya dalam hati, apa itu 'Penyakit SMS'? Tak lama kemudian Pak Camat mulai menjelaskan kepada masyarakat setempat dengan cara yang khas dan sedikit formil. Beliau berkata, "Bapak-bapak, Ibuk-ibuk jangan sampai masyarakat kita terkena 'penyakit SMS', Senang Melihat orang lain Susah, Susah Melihat orang lain Senang...". Masyarakat yang berkumpul saat itu pun mendengarkan dengan seksama. Namun setelah 3 tahun saya bolak-balik ke Negeri itu...kesan yang saya temukan pada masyarakatnya sangat luar biasa. Mereka memiliki keramah-tamahan yang cukup memikat hati, open mind terhadap pembaharuan, menjaga kekompakan dan keakraban dalam bekerjasama dan masih banyak lagi yang tak bisa saya ungkapkan satu persatu dalam catatan ini. Mungkin salah satunya karena daerah tsb dahulunya adalah merupakan daerah Kerajaan Indrapura ternama di Pesisir Selatan yang memiliki pelabuhan Internasional dimasanya dan dikunjungi oleh berbagai Kerajaan di Asia maupun benua lainnya. Sehingga, jika ada orang baru yang berkunjung ke Negeri itu, menjadi sesuatu hal yang lumrah bagi mereka dan menyambutnya dengan kehangatan. Selama berada di sana, saya seakan merasa menemukan keluarga baru, dan nilai-nilai persaudaraan itu terjalin dengan sendirinya sampai detik ini dan berharap akan berlanjut hingga akhir nanti.

Setelah saya menyelesaikan studi di sebuah perguruan tinggi, saya sempat bekerja beberapa lama di sebuah kota tempat saya kuliah dulu. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman karena hasrat kerinduan berkumpul dengan keluarga, setelah sekian lama berpisah dari keluarga. Setelah +/- 1 tahunan berdomisili di desa tercinta ini, saya menemukan gejala 'Penyakit SMS' tsb mulai mewabah di desa ini. Desa yang dahulunya saya kenal dengan pemandangan alamnya yang indah, hamparan sawah hijau yang luas sejauh mata memandang, bukit-bukit berbaris menyambut kedatangan siapa saja yang melaluinya, tanahnya yang subur sebagai sumber mata pencaharian warganya, udara sejuk dan segar yang membuat hasrat makan dan istirahat jadi bertambah. Kini, lambat laun kepribadian masyarakatnya mulai berubah nilai-nilai luhur yang dulunya melekat pada negeri ini memulai tergerus oleh budaya materialisme, nilai-nilai persaudaraan kian memudar, masyarakatnya mulai berlomba-lomba mengejar prestise, baik harta, kedudukan, pangkat maupun jabatan. Mereka cenderung sering mempermasalahkan hal-hal kecil, semisal perkara pembagian warisan, mengambil hak yang bukan miliknya, mengeluarkan kata-kata sarkasme tanpa memikirkan perasaan orang yang ada disekitarnya. Mengumbar aib sesama tanpa mengingat kekurangan dirinya sendiri, musyawarah dan mufakat yang sudah mulai ditinggalkan demi kepentingan sebagian golongan, orang yang vokal dan dominanlah yang didengarkan walaupun minim ilmu, dan nilai "raso jo pareso" yang kian memudar, dsb. 

Saya yakin tak semua masyarakat di desa ini memiliki kepribadian seperti yang saya terangkan diatas. Masih ada banyak orang yang memegang prinsip-prinsip kebenaran dan kebaikan di desa ini. Namun saya sebagai orang biasa yang menjadi bagian dari komunitas ini, berharap akan ada perubahan signifikan dikemudian hari dari generasi-generasi mudanya yang telah menimba ilmu dan melang-lang buana ke Negeri lain bahkan ke Negara lain untuk memajukan Negeri ini dan menaburinya dengan nilai-nilai kebijaksanaan dikampung halaman tercinta. 

Bayangkan jika gejala 'Penyakit SMS' ini mulai menjalar ke ratusan desa yang tersebar di Indonesia. berapa tahun kemunduran yang akan terjadi dalam membangun sebuah peradaban bangsa?

Jika saya mengajukan sebuah pertanyaan dengan dua buah pilihan jawaban manakah yang menjadi pilihan anda:

1). Penyakit SMS, yaitu Senang Melihat orang lain Susah & Susah Melihat orang lain Senang,

2). SMS saja, yaitu Senang Melihat orang lain Senang.

Jika anda menjawab pilihan pertama maka saya akan mengucapkan:
SELAMAT...anda masih punya kesempatan untuk merubah diri, selama Allah SWT masih memberikan anda kesempatan untuk menghirup udara Nya.

Jika anda memilih pernyataan yang kedua maka saya akan mengucapkan:
SELAMAT...hanya satu kata yang akan saya berikan yaitu LANJUTKAN... :) 

Disaat kita membuka diri melakukan perubahan kearah yang lebih baik dari hal-hal negatif yang membelenggu diri kita saat ini, maka tunggulah...keajaiban demi keajaiban akan datang menghampiri anda dalam kebaikan.

Keep Spirit for All of You, Wherever You Are... :) 


Bukittinggi, terbitan awal di catatan fb (CB) tanggal 16/11/2010. 

Kamis, 13 Januari 2011

Sehari Tanpa Facebook

Bismillah...

Kemarin tepatnya tanggal 12/1/2011, saya mengazzamkan diri untuk tidak bersentuhan dengan televisi dan dunia maya (apalagi fesbuk, puasa fesbuk ceritanya untuk melepaskan zat adiktif fesbuk, xixi...). Saya hanya ingin membuktikan tanpa ketergantungan dengan benda mati, kita masih bisa hidup dengan tenang, aman, dan damai.

Nikmatnya mengalihkan kebiasaan dengan sesuatu yang lebih bermanfaat seperti membaca buku, mendengarkan Murottal (lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an) di Lap Top, dll. Judul buku yang lagi saya baca saat ini berjudul "Sokola Rimba" karangan Butet Manurung. Ia adalah seorang Antropolog wanita jebolan FISIP UNPAD Bandung. Sudah beberapa tahun yang lalu kiranya saya membeli buku ini disebuah toko buku yang bernama "Sari Anggrek" di jalan permindo, Padang, Sumatera Barat. Namun begitu enggannya diri ini menyelesaikan bacaan tersebut. Kenapa? Karena biasanya jika kita meminjam buku dari orang lain atau dari perpustakaan, kita akan berusaha menyegerakan melalap buku bacaan tersebut berhubung ada deadline dari pihak peminjam. Beda halnya jika kita memiliki buku tersebut, jika buku itu amat lah menarik maka kita akan menyegerakan untuk membacanya. Jika buku itu menarik namun kita belum terlalu mood/ belum membuka hati untuk mengetahui isinya maka kita dengan mudah mencari alasan untuk mengulur-ulur waktu menyelesaikan bacaan tersebut, karena tak ada deadline dan kita bisa membacanya kapan saja semau kita. Heiih diri, berhentilah mencari-cari alasan jika ingin maju (xixi...cara ampuh menasehati diri sendiri ^^ )

jika saya mampu menyelesaikan bacaan tersebut dalam waktu dekat. Insya Allah, saya akan belajar meresensi buku. Jika saya berhasil meresensi buku tersebut, maka resensi buku itu adalah merupakan resensi buku pertama saya di blog taman hatiku ini... (mudahkan Ya Allah, Aamiiin)

Mohon do'a dan dukungannya ya teman... :)

SEMANGAT !!!


Bukittinggi, 13/1/2011.

Senin, 10 Januari 2011

Mengungsikan Catatan Berharga di Akun FB

Bismillah...

Baru-baru ini saya membaca sebuah berita di m.detik.com yang di add oleh seorang teman di FB. Dalam berita itu dinyatakan bahwa Mark Zuckerberg, sang pemilik Facebook akan segera menutup Facebook yang penggunanya mencapai 500 juta orang diseluruh dunia pada tanggal 15 Maret 2011 mendatang seperti yang dikutip dalam situs weeklyworldnews.com. Benarkah???

Mark Zuckerberg sebenarnya merasa berat untuk mengambil keputusan ini. Namun ia ingin mengakhiri kesembrawutan yang terjadi bagi para pengguna FB diseluruh dunia akhir-akhir ini.

Ia berkata, "Sejujurnya, ini cara yang terbaik. Tanpa Facebook, orang-orang akan pergi ke luar dan menjalin pertemanan yang sesungguhnya. Itu selalu menjadi hal yang baik".

Saya setuju dengan pendapat tersebut. Karena saya pun merupakan salah seorang yang mulai terjangkit zat adiktif fb (namun tujuannya cuma untuk menjalin pertemanan dan sharing ilmu). Bagaimanakah cara menyembuhkannya? Mungkin dengan penutupan jejaring sosial fb bisa menjadi salah satu obat penawarnya...xixi :)

Usut punya usut ternyata seperti yang diinfokan oleh m.detik.com, baru situs weeklyworldnews.com yang memberitakan hal ini. Dan situs ini merupakan situs parodi yang isinya jauh dari kebenaran menurut keterangan m.detik.com...

Benar atau tidaknya info ini, kita lihat saja nanti tanggal 15 maret 2011.

Jika benar, saya harus mengungsikan beberapa catatan-catatan berharga saya di fb. Jika tidak, saya juga tetap akan mengungsikan catatan tersebut ke blog "Taman Hati", xixi :)

Namanya juga "Taman Hati" yang definisinya adalah sbb:

"Adalah taman tempat merenung dari perjalanan panjang. Adalah taman tempat kita berdialog dengan suara yang jernih. Adalah taman tempat kita mendengar suara nurani. Adalah taman tempat kita berteduh dan bernaung, agar langkah berikutnya lebih tertuntun dengan Hidayah Allah SWT. Karena, adalah Raja... Bila hati itu baik maka baiklah seluruh pasukannya... Dialah Hati... :)

Untaian kata indah ini saya dapatkan dari seorang saudara seiman bernama Ummu Daffa Farras, terimakasih Ummu. Untaian kata indah inilah yang menggerakan saya untuk memberi blog ini nama "Taman Hati".

Tujuan awal menerbitkan blog Taman Hati ini adalah untuk memotivasi diri sendiri disaat jiwa ini sedang rapuh dan butuh bimbingan serta secerca Hidayah dari Allah SWT. Tulisan-tulisan di Blog "Taman Hati" ini berupa opini-opini, renungan-renungan, pengalaman-pengalaman, motivasi-motivasi yang pernah singgah beberapa saat dihati, pikiran, perkataan, tindakan dari saya sebagai pemilik blog. Namun tak tertutup kemungkinan saya mengutip beberapa tausiyah-tausiyah dari referensi lain, dari buku-buku, dari e-book, atau dari lagu-lagu yang inspiratif bagi saya, yang tujuannya hanyalah sekedar untuk memotivasi diri. Jika suatu saat saya membutukan secerca motivasi maka saya akan membuka kembali file-file yang terangkum dalam blog "Taman Hati" ini.

Bagi teman-teman yang ingin men-share/membagikan artikel-artikel yang ada di Blog Taman Hati ini, saya persilahkan...karena tulisan-tulisan/ artikel-artikel ini hanya mampir sesaat dibenak saya lalu menjelma menjadi sebuah tulisan dari sesuatu yang pernah saya alami, sesuatu yang pernah saya rasakan, sesuatu yang pernah saya pikirkan, atau berusaha mencari solusi dari pertanyaan-pertanyaan yang bercokol di kepala dengan cara mengetik ulang ayat-ayat suci Al-Qur'an, Hadits, dan tausiyah-tausiyah yang berharga dari para Da'i.

Teman...ada rumus baru ni dari saudara seperjuangan. Nama rumusnya adalah rumus ABC... yuk kita baca bersama:

A = Ambil yang baik
B = Buang yang buruk
C = Ciptakan yang baru

Alhadulillah, akhirnya selesai juga. Horeeeee... ^^

SEMANGAT :)

*****

Catatan ini diketik Via Handphone...
Jika saya berkesempatan ke warnet terdekat, Insya Allah... Saya akan memposting tulisan terbaru. Mudahkanlah ya Allah, Aamiiin... :)


Bukittinggi, 10/1/2011

Senin, 03 Januari 2011

Motivator Dalam Dunia Penulisan


Bismillah...

Ada banyak orang yang telah memberikan motivasi dalam dunia penulisan, namun tiap orang akan memiliki figur-figur penulis tersendiri yang mengena pada diri mereka, bisa jadi ada beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang untuk memiliki figur-figur penulis yang bisa memberikan inspirasi kepada mereka untuk memulai dunia penulisan, salah satunya adalah karena memiliki berbagai kesamaan, misalnya: memiliki keyakinan yang sama, memiliki bidang keilmuan yang sama, memiliki karakter penulisan yang unik dan menarik, memiliki kisah hidup yang unik, memiliki minat yang sama, memiliki pandangan yang mencerahkan, memiliki kemiripan hoby dan banyak lagi kesamaan-kesamaan lain yang bisa mereka singkronkan pada diri mereka.

Dalam menemukan seorang motivator pada dunia penulisan, saya pun akan tertarik oleh sebuah gravitasi yang bernama ‘kesamaan’. Dalam menentukan penulis-penulis yang bisa menarik kita pada gravitasi kesamaan itu tidaklah bisa dipaksakan. Tarikan gravitasi itu akan berjalan secara alami. Kata saudara saya sih seperti memilih teman akrab/sahabat, pertemanan akrab/persahabatan itu tidaklah bisa dipaksakan. Ia akan berjalan secara alami. Dalam perjalanannya membina persahabatan maka ia akan menemui banyak kesamaan yang menyertai dirinya, mungkin suatu waktu akan ada benturan-benturan kecil dari perbedaan pendapat yang menyertai pandangan mereka, namun hal itu bisa ditepis dengan saling harga-menghargai dan saling hormat-menghormati dalam menyikapi perbedaan pendapat tersebut. Sama halnya ketika Allah SWT menciptakan anak kembar dari rahim seorang ibu, mereka memiliki satu ibu yang sama namun Allah SWT menciptakan mereka dengan karakter yang tidaklah sama sekalipun mereka memiliki kemiripan pada bentuk wajah.       

Begitu juga halnya ketika saya memilih figur-figur penulis yang mampu membangkitkan semangat saya dalam bidang penulisan. Ada banyak penulis yang menginspirasi saya dalam bidang penulisan dari karya-karya yang telah mereka lahirkan, namun ada beberapa penulis yang karya-karyanya terasa lebih mengena di hati, ketika saya membaca hasil pemikiran, perenungan, refleksi mereka dalam melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda atau sudut pandang yang tepat, misalnya saja Aid Al Qarni,  Bunda Neno warisman, Taufiq Ismail, Habiburrahman El Shirazy, Renal Kasali, Andrea Hirata,  dan masih banyak lagi penulis yang telah berkarya dan berjasa dalam memberikan pencerahan .

Beberapa penulis yang saya sebutkan di atas telah berhasil melahirkan banyak karya yang mampu mengubah paradigma, menyentuh hati, dan melahirkan sebuah kesadaran dalam melakukan perubahan pada kebaikan. Dari beberapa penulis yang saya sebutkan di atas ada tiga orang penulis yang pernah saya jumpai yaitu Pak Taufiq Ismail, Ustadz  Habiburrahman El Shirazy, dan Renald Kasali. Namun ada beberapa penulis lain yang penah saya jumpai dan belum bisa saya bahas satu-persatu dalam tulisan ini yaitu: Solikhin Abu Izzudin, M. Nur Lili Auliya, Herry Nurdi, Salim A. Fillah, KH. Abdullah Gymnastiar, Bambang Rudito, Prof. Damsar Azis, Bob Sadino, dll…yang memberikan kesan tersendiri buat saya.

Ketika bertemu dengan Pak Taufik Ismail dalam sebuah acara dalam rangka  memperingati kelahiran Muhammad Hatta pada tanggal 12/8 beberapa tahun silam di UNAND, pada saat Pak Taufiq Ismail berkesempatan membacakan puisi berjudul “Malu (aku) jadi orang Indonesia”, saya tergugah pada saat mendengar beliau melantunkan puisi tersebut. Beliau membacakan puisi tersebut penuh dengan pemaknaan serta penghayatan dan yang terpenting beliau membacakan karya itu dengan menggunakan hati. Pada saat beliau membacakan puisi tersebut, pesan yang beliau sampaikan melalui puisi tersebut seakan-akan meresap kedalam hati karena beliau membacakan puisi tersebut juga melalui pemaknaan dan penghayatan yang diutarakan melalui hati. Saya sekan-akan merasa seperti seorang cucu yang sedang dinasehati oleh seorang kakek bijaksana yang memberikan kesegaran kepada jiwa yang haus akan nasehat-nasehat berharga.

Entah berapa ratus kali beliau membacakan puisi-puisi di depan umum baik di dalam negeri maupun di luar negeri, namun saya yakin latihan/ proses berulang-ulang itu lah yang menghantarkan beliau pada sebentuk kesadaran dalam menyampaikan puisi dari dasar hati yang terdalam dari diri seorang Taufiq Ismail. Bagi beliau, puisi baru ‘memperoleh tubuh yang lengkap’ jika setelah ditulis, lalu dibacakan di depan orang, Subhanallah…

Lain lagi ketika saya bertemu dengan seorang penulis sastra best seller Ustadz Habiburrahman El Syirazi di UNAND dalam rangka promosi Film KCB beberapa tahun silam yang mendatangkan beberapa artis pendatang baru dari Film KCB tersebut. Menurut pengamatan saya sekilas, beliau memiliki perwakan yang tenang, namun ketika beliau menjawab beberapa pertanyaan dari para penanya pada saat session tanya-jawab, maka terlihatlah seberkas cahaya keimanan, kecerdasan, dan daya yang menggerakkan pada setiap ucapan-ucapan yang terlontar dari hatinya, dari pikirannya, dari perkataannya, dan dari perbuatannya. Di akhir acara saya mencoba menghampiri beliau di balik kerumunan penggemar yang mengambil kesempatan untuk berfoto bersama. Saya menunggu beberapa saat, lalu berkata, “ Kang Abib boleh minta tanda tangannya nggak?” pada saat itu kebetulan saya membawa sebuah buku yang berjudul “Zero To Hero” karangan Solikhin Abu Izzudin, pada saat saya menyodorkan buku tersebut untuk ditanda tangani, beliau mengambil alih buku itu dari tangan saya lalu memegang pena dan menandatangani kertas putih yang berada dibalik sampul buku tersebut tanpa berkata apa-apa, lalu saya bertanya lagi, “Kang Abik boleh minta nomor HP-nya nggak?”, kembali beliau menuliskan nomor HP beliau di bawah tanda tangan yang terletak pada kertas putih yang berada dibalik sampul buku tersebut dengan ekspresi yang datar-datar saja, saya seraya berujar “Terimakasih Kang Abik…” dan beliau menganggukkan kepala, dalam hati saya berkata, “What? Cool banget :)”. Namun kedatangan beliau ke UNAND tetap memberikan kesan tersendiri buat saya.

Pada saat saya bertemu dengan Pak Renald Kasali dalam sebuah acara workshop wirausaha yang diselenggarakan oleh Bank Mandiri dengan tema “Semangat… Generasi Mandiri” yang diadakan di Gedung ruang sidang Bung Hatta dan terletak bersebelahan dengan Hill Hotel Bukittinggi, pada tanggal 10/6/2008.  Beliau merupakan salah seorang motivator dalam bidang ekonomi yang telah berhasil menyemangati banyak orang dalam hal kemandirian financial/keuangan. Telah banyak terobosan-terobosan yang berhasil beliau kembangkan salah satunya mengolah sampah menjadi bahan daur ulang dan uniknya sampah yang dikelolah oleh para tenaga kerja, tidak meninggalkan bau tak sedap karena pengelolaan sampah tersebut diproses dengan mencampurkan bakteri penghilang bau kedalam tumpukankan sampah-sampah tersebut. Jadi bagi orang-orang yang ingin menyempatkan diri melihat pengelolaan sampah tersebut tak perlu repot-repot  lagi menutup hidung dikarenakan bau yang tak sedap (kata Pak Renald Kasali), kecuali bagi mereka yang memiliki frem berfikir bahwa sampah itu bau dan mereka tidak mau mencoba merubah frem berfikir mereka pada saat dihadapkan dengan tumpukan sampah yang sebenarnya sudah disterilkan dari bau dengan menggunakan bakteri penghilang bau. 

Beliau memiliki keilmuan, semangat dan antusiasme yang tinggi serta memiliki kemampuan untuk menularkan keilmuan, semangat dan antusiasme tersebut kepada banyak orang temasuk kepada saya yang waktu itu berada dibalik kursi yang dihadiri oleh ratusan mahasiswa pada beberapa perwakilan Universitas, baik Universitas negeri maupun swasta, subhanallah…(Alhamdulillah Ya Allah).

Beberapa bulan belakangan ini saya cukup sering mengikuti beberapa blog di Internet, salah satunya http://timurangin.blogspot.com/, pemilik blog tersebut bernama Yusran Darmawan. Saya pertama kali berkenalan dengan pemilik blog tersebut di dunia maya,  pada saat seorang dosen bernama Buk Yevita Nurti meng-add undangan pernikahan beliau dari sebuah blog, kalau saya tidak salah blog kompasiana. Buk Yevita Nurti merupakan seorang dosen yang mengajar dibidang antropologi UNAND dan beliau juga merupakan salah seorang dosen yang pernah mengajar saya sebagai mahasiswa beliau di jurusan Antropologi UNAND, Padang, Sumatera Barat. Pada saat itu saya membaca sebuah tulisan yang terselip dalam undangan pernikahan di jejaring sosial tersebut. Pada saat saya membaca untaian kata-kata yang ada dalam undangan tersebut saya berfikir, “Wah...Antro banget, siapakah gerangan sang pemiliki tulisan ini?” lalu saya melacaknya di jejaring sosial FB dan mencoba meng-add untuk menjalin pertemanan. Tak lama berselang saya pun mendapatkan konfirmasi dari pemilik akun FB tersebut. Awalnya saya agak canggung mau manggil apa, ketika saya melihat info di akun beliau tertulis domisili Jakarta (pada saat itu), saya kira ‘orang jawa’ lalu saya menulis sesuatu dikolom komentar, “terimakasih mas sudah dikonfirm”, serta memberikan ucapan selamat pada pernikahan beliau dengan seorang gadis Bugis bernama Dwi agustriani. Namun lambat laun saya baru tahu beliau kelahiran Bau-bau dari blog pribadi yang beliau kelola. Selang beberapa lama melihat tulisan-tulisan beliau beberapa kali memenuhi beranda FB, tiap kali saya membaca tulisan-tulisan beliau saya selalu mendapatkan pencerahan-pencerahan baru dalam bidang ilmu sosial budaya/ humaniora. Setelah selesai membaca karya-karya tulis tersebut saya selalu menekan tombol jempol untuk mengapresiasi setiap karya tulis beliau. Sampai suatu ketika saya membaca sebuah artikel hasil resensi sebuah buku yang berjudul “Keep Your Hand Moving”. Pada saat itu saya merasa butuh akan ilmu yang ada di dalam tulisan tersebut. Lalu saya memberanikan diri untuk mengontak ke In Box beliau dan minta dikirimkan tulisan “Keep Your Hand Moving” ke dinding FB saya, serta minta izin untuk mengutip tulisan yang berjudul “Menulis dan Meditasi” dari blog beliau. Pada saat itu beliau mengizinkan dan berkata “Silakan” dari jawaban pesan yang saya terima di In Box saya. Tak lama kemudian saya pun mendapatkan kiriman sebuah tulisan yang berjudul ”Keep Your Hand Moving” yang berisikan trik-trik menulis yang simpel, pada saat itu saya menulis sesuatu di kolom  komentar, ”Thank’s Bang Yusran, Insya Allah... I Will Keep My Hand Moving”. Ternyata komentar yang saya tulis tersebut menjelma menjadi sebuah janji yang mengikat diri saya sendiri untuk memulai kembali belajar menulis yang notabene saya telah lama absen dari dunia penulisan. Satu hari setelah itu ketika saya membuka beranda, ada satu kiriman tulisan lagi yang saya terima dari beliau kalau tidak  salah dari blog kompasiana kepunyaan beliau yang dikirimkan ke beberapa teman lainnya termasuk salah satunya Buk Yevita Nurti. Saya cukup surpise dengan tulisan tersebut yang mengungkapkan tentang profil Bung Hatta, yang notabene saya belumlah terlalu mengenal sosok Bung Hatta secara utuh dari karya-karyanya. Namun saya rasa ada maksud tersirat dari pengiriman tulisan tersebut yaitu di negeri yang saya tempati di Bukittinggi ini telah lahir seorang tokoh nasional yang mengharumkan nama bangsa dan akhirnya sosok itu menjelma menjadi sebuah sosok yang memotivasi saya untuk mulai menulis kembali, walaupun hanya sebatas belajar mengemukakan opini di catatan FB. Dua bulan belakangan saya baru menyempatkan diri untuk membuat sebuah akun blog bernama Taman Hati di http://rahmi-chitra-saumy.blogspot.com/. Walaupun saya belum konsisten memposting tulisan setiap hari, karena keterbatasan sarana internet. Internet permanen yang saya andalkan saat ini baru sebatas akses internet melalui handphone, jika ingin memposting tulisan di blog, maka saya harus menyempatkan diri untuk mampir ke internet (Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah mempertemukanku dengan orang-orang yang capable dalam dunia penulisan di saat saya membutuhkan guru-guru dalam bidang tersebut).

Pada tanggal 31/12/2010 beliau menggenapkan tulisan di blog timur angin dengan angka statistik 1000 tulisan, Wauw! Fakta ini kembali mengingatkan saya pada sebuah kata-kata hikmah bahwa ”satu keteladanan itu lebih berharga dari seribu kata-kata” dan beliau telah memberikan satu keteladanan dalam ”bidang penulisan” dari buku yang pernah beliau resensi dalam blog timur angin yakni ”Keep Your Hand Moving”. Terimakasih Bang Yusran dan Dwi Agustriani serta para penulis yang telah banyak menghasilkan karya-karya nyata, atas ilmu-ilmu yang sangat bermanfaat... Semoga menjadi amal jariah yang tak terputus hingga akhir zaman, Aamiiin. Salam buat Dwi Agustriani, Semoga pernikahannya dipenuhi dengan keberkahan dan kebahagiaan oleh Allah SWT, Aamiiin Yaa Rabbal’alamin.

*****

Bagi teman-teman yang tertarik pada bidang-bidang ilmu sosial dan Humaniora, saya merekomendasikan Blog Yusran Darmawan, di http://timurangin.blogspot.com/. Untuk menjadi salah satu referensi bacaan di dunia maya. Bahkan seorang penulis blog bernama Pak Hamzah Palalloi pernah membuat sebuah artikel di kompasiana tentang tulisan beliau yang berjudul “Bernyawa Dalam Kata”. Jika Anda tak percaya, buktikan sendiri...


SEMANGAT...


Bukittinggi, 3/1/2011.         

Rabu, 29 Desember 2010

Adab Bergaul Antara Umat Muslim Dan Non-Muslim

Bismillah…


Baru-baru ini saya membaca sebuah blog yang notabene sering saya ikuti. Tak sedikit ilmu dalam dunia penulisan yang saya dapatkan dari blog tersebut walaupun tak semua tulisan yang saya baca dari blog tersebut saya sepakati. Sebagai seorang pembaca yang baik kita juga harus kritis dan memiliki filter dalam melalap setiap bacaan. Menurut saya filter yang paling ampuh dalam menyeleksi bacaan adalah Ilmu dan Iman/Keimanan. 

Pada waktu itu saya mulai membuka sebuah blog di internet yang saya baca dari sebuah HP Nokia bertipe 5610 XpressMusic yang setia menemani saya menjelajahi dunia maya untuk saat ini. Saya mulai asyik membaca hasil pemikiran dari pemilik blog tersebut. Jika informasi yang saya terima memiliki manfaat dan berisikan kebenaran dan kebaikan maka saya tak akan segan-segan menyerapnya kedalam memori yang  menurut para ahli memiliki kapasitas melebihi komputer/Note Book manapun di dunia ini yang telah dititipkan oleh Allah SWT kepada manusia, dialah otak dan beberapa perangkat lunak lainnya dalam tubuh kita.  Namun tentu saja saya membutuhkan beberapa filter seperti yang saya utarakan di atas, dalam membaca karya tulis apapun dalam berinteraksi dengan pemikiran sang penulis, yakni : Ilmu dan Iman/Keimanan.

Ketika saya asyik-asyik membaca beberapa tulisan tersebut, alangkah terkejut dan sedihnya saya membaca sebuah ‘ungkapan selamat’ yang ditujukan kepada hari besar umat Non-Muslim yang notabene pemilik blognya adalah seorang Muslimah yang dibesarkan dari keluarga Islam. Karena sepengetahuan saya, Kita boleh berhubungan dengan Non-Muslim dalam hal Mu’amalah (Perdagangan atau berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari), Namun tidak Pada hal Akidah (keyakinan yang menjadi pondasi mendasar dalam agama Islam  kepada Ke-Esaan Allah SWT).

Untuk beberapa hal saya bersepakat dengan pendapatnya ketika ia mengatakan bahwa: 

“Kita tak pernah tahu apakah kita lebih mulia dari orang lain. Kita bukan Tuhan yang kemudian dengan seenaknya memberikan penghakiman salah kepada sesuatu yang berbeda dengan pemahaman kita”.

Dilanjutkan dengan kalimat:

“Aku yakin Tuhan memiliki BahasaNya sendiri dalam menilai umatNya. Bahasa yang tak dipahami dengan pengetahuan manusia. Ia Maha Pengasih..... Setiap manusia memiliki hak dasar untuk beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Dan tiap manusia tidak boleh saling memaksakan hak dan kehendaknya tersebut”.

Dan potongan kalimat lainnya:

“Perbedaan haruslah dilihat sebagai sesuatu yang memperkaya bukan menjadi sebuah problem keberagaman. Karena itulah Tuhan menciptakan Cinta. Agar segala yang berbeda bisa bersama karena cinta”. (Izin ngutip ya Dwi di Teras Imaji)

Sebagai mana firman Allah SWT dalam Surat Cinta-Nya/ kitab suci Al-Qur’an yang Insya Allah keotentikannya tetap terpelihara sampai akhir zaman, yang terdapat dalam Surat Al-Hujurrat (49): 13-18, antara lain :

Manusia diciptakan berbagai bangsa untuk saling kenal

13. Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Ciri-ciri iman yang sebenarnya

14. Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman." Katakanlah: Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

15. Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.

16. Katakanlah: "Apakah kamu akan memberitahukan Allah tentang agamamu, padahal Allah mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu?"

17. Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. katakanlah: "Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar."

18. Sesunggunya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.


Bagi saya, kandungan kitab suci Al-Qur’an yang terdapat dalam Surat Al-Hujuraat (49): 13-18 di atas merupakan sebuah pencerahan dari Allah SWT dalam menyingkap rahasia dari penciptaan makhluknya yang beraneka ragam di dunia ini.

Namun, Maafkan jika saya berbeda dalam menanggapi ‘ucapan selamat hari besar kepada Non-Muslim’, karena hal itu jelas-jelas sudah melanggar/menerobos batas-batas Akidah bagi kita sebagai umat Muslim, baik ‘taat/ tidak’.

Keterangan tersebut bisa kita telusuri dalam Kitab Suci Al-Qur’an dalam beberapa ayat yang terdapat dalam beberapa Surat Cinta dari Allah SWT, antara lain :
  • Dalam Surat Ash-Shaaffaat (37): 149-160, Allah SWT berfirman :
Tak layak Allah mempunyai anak perempuan

149. Tanyakanlah (ya Muhammad) kepada mereka (orang-orang kafir Mekah): "Apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki [1291],

[1291]. Orang musyrikin mengatakan bahwa Allah mempunyai anak-anak perempuan (malaikat), padahal mereka sendiri menganggap hina anak perempuan itu.

150. atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan(nya)?

151. Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan:

152. "Allah beranak. " Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta.

153. Apakah Tuhan memiliki (mengutamakan) anak-anak perempuan daripada anak laki-laki?

154. Apakah yang terjadi padamu? Bagaimana (caranya) kamu menetapkan?

155. Maka apakah kamu tidak memikirkan?


156. Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata?

157. Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar.

158. Dan mereka adakan (hubungan) nasab antara Allah dan jin. Dan sesungguhnya jin mengetahui bahwa mereka benar-benar akan diseret (ke neraka),

159. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan,

160. Kecuali hamba-hamba Allah[1292] yang dibersihkan dari (dosa).

[1292]. Yang dimaksud hamba Allah di sini ialah golongan jin yang beriman.

  • dalam Surat Al-Ikhlas (112): 1-4, Allah SWT berfirman :

AL-IKHLAS (MEMURNIKAN KEESAAN ALLAH)

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

ARTI KEESAAN TUHAN

1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.

2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu,

3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,

4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."

  • Dalam Surat Al-Jinn (72): 1-4, Allah SWT berfirman :

Al-JIN (JIN)

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

1. Katakanlah (hai Muhammad): "Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al-Qur'an), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Quran yang menakjubkan,

2. (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami,

3. dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak.

4. Dan bahwasanya: orang yang kurang akal daripada kami selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah[1522],

[1522].. Yang dimaksud dengan perkataan yang melampaui batas, ialah mengatakan bahwa Allah mempunyai isteri dan anak.

Dikutip dari: Al-Qur’an Digital.

Surat Cinta-Nya/ Al-Qur’an yang diperuntukkan Allah SWT kepada Kita sebagai Manusia... Semestinyalah Surat Cinta-Nya/ Al-qur’an itu menjadi salah satu tempat bertanya sebelum Kita menyimpulkan sesuatu tentang Tuhan yang Maha Esa.  

Ada sebuah kisah yang pernah diceritakan oleh Saudara Seimanku bernama Cece ’Sari Anggraeni’( semoga Allah merahmatinya), pada saat saya akan berangkat penelitian kesebuah daerah di Pesisir Selatan, Sumatera Barat, tepatnya di Kenagarian Inderapura. Pada saat itu dengan penuh kasih sayang Cece pun mulai bertutur: ”Dek...Cece punya sebuah cerita tentang dua orang pemuda yang sama-sama memiliki ilmu/ kecerdasan intelektual namun berbeda dalam kualitas keimanan.

”Pada suatu hari ada seorang Pemuda A (Ia memiliki kecerdasan intelektual yang memadai dan kualitas keimanan yang baik kepada Allah SWT), ia berkunjung kesebuah desa. Pada saat itu ia melihat masyarakat setempat sedang melakukan ritual penyembahan berhala. Ketika masyarakat di desa itu melihat Pemuda A tersebut berjalan dihadapannya, maka mereka meminta Pemuda A tersebut mengorbankan seekor lalat untuk dipersembahkan kepada berhala tersebut. Jika ia tidak melakukannya maka masyarakat tersebut mengancam akan membunuhnya pada saat itu. Di sinilah keimanan Pemuda A tersebut diuji oleh Allah SWT... dengan tegas dan keyakinan yang mantap dia mengatakan ”Tidak” kepada sekelompok masyarakat yang mengadakan ritual penyembahan terhadap berhala tersebut. Akhirnya masyarakat beramai-ramai menghabisi nyawanya pada saat itu juga... Namun dalam perjuangannya mempertahankan Akidah/Tauhid kepada Allah SWT, Allah SWT menjanjikan ’Syurga’ kepadanya (Subhanallah...Maha Suci Allah).  

Suatu kali ada seorang Pemuda B (Ia memiliki kecerdasan intelektual yang memadai, namun kualitas keimanannya masih dipertanyakan oleh Allah SWT). Ia berkunjung ke sebuah desa yang sama dengan Pemuda A di atas. Pada saat itu ia melihat masyarakat setempat sedang melakukan ritual penyembahan berhala. Ketika masyarakat di desa itu melihat Pemuda B tersebut berjalan dihadapannya, maka mereka meminta Pemuda B tersebut mengorbankan seekor lalat untuk dipersembahkan kepada berhala tersebut. Jika ia tidak melakukannya maka masyarakat tersebut mengancam akan membunuhnya pada saat itu. Akhirnya Pemuda B itu berfikir ”Apa salahnya saya diminta mengorbankan seekor lalat bagi sebuah ritual adat masyarakat setempat?”. Akhirnya ia mengorbankan seekor lalat dalam ritual penyembahan berhala tersebut, pada saat itu dia selamat dari ancaman pembunuhan yang di utarakan oleh masyarakat setempat. Namun tak lama berselang Allah SWT memberikan ketetapan pada takdir hidupnya, ketika ia meninggal dunia maka Allah SWT menetapkan tempat yang layak baginya yaitu ’Neraka’. ”

Lho...Apa salahnya hanya diminta mengorbankan seekor lalat dalam ritual adat masyarakat setempat dalam menyembah berhala? Letak salahnya adalah karena Pemuda B tersebut rela mengorbankan keimanannya yang paling berharga kepada Allah SWT demi seekor lalat. Wallahu’alam Bishawab...

Kisah di atas diambil dari sebuah Hadits... Namun maafkan saya, karena untuk saat ini saya belum bisa memberi tahu siapa perawinya (para pakar Hadits-nya). Karena saya baru sebatas mendengarkan kisahnya dari seorang Saudara Seiman... bagi saudara-saudaraku yang mengetahui perawi haditsnya, Silahkan diberitahukan dalam kolom komentar... Terimakasih sebelumnya

Maka berhati-hatilah bagi saudara-saudaraku yang ingin mengucapkan ”selamat” pada hari besar umat Non-Muslim, karena setahu saya, para ulama Islam telah bersepakat mengatakan bahwa mengucapkan kata ”selamat” pada hari besar Umat Non-Muslim, hukumnya sama dengan hukum ”memakan daging Babi, Bangkai, atau Darah” bagi Umat  Islam. Hayo, mau ngucapin selamat lagi ya ??? Pikirkanlah kembali Konsekuensinya Saudaraku Seiman dan Se-Islam, sebelum kata itu terucap dari bibirmu, atau tulisan-tulisan di blogmu, atau media sejenisnya...

Inilah yang dikenal dengan sebutan Ghozul Fikri (Perang Pemikiran) yang dielu-elukan baik oleh kaum Yahudi maupun kaum Nasrani, yang telah diabadikan oleh Allah SWT dalam Kitab Suci Al-Qur’an dalam surat Al-Baqarah (2): 120, antara lain :

120. Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.

Dalam Suatu riwayat dikemukakan bahwa kaum Yahudi Madinah dan kaum Nashata Najran mengharap agar Nabi SAW shalat menhadap qiblat mereka.Ketika Allah SWT membelokkan qiblat itu ke Ka'bah, mereka merasa keberatan. Mereka berkomplot dan berusaha agar supaya Nabi SAW menyetujui qiblat sesuai dengan agama mereka. maka turunlah ayat tersebut di atas (S. 2: 120) yang menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi dan orang-orang Nashara tidak akan senang kepada Nabi Muhammad SAW walaupun keinginannya dikabulkan. (Diriwayatkan oleh Tsa'labi yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

Kita sudah terlalu terbiasa dididik oleh media massa atau elektronik dari kecil hingga kini dengan menyaksikan berbagai simbol-simbol yang dikenakan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, sehingga kita menganggap hal tersebut merupakan sesuatu hal yang biasa-biasa  saja, tanpa berusaha berfikir kritis apa makna-makna simbol itu sebenarnya? apa efeknya pada keimanan kita yang lambat-laun, sedikit demi sedikit mulai tergerus dari fitrah Islam yang sebenarnya? Dan menganggap sesuatu hal yang tabu menjadi sesuatu hal yang biasa-biasa saja... Dan bahkan menyimpulkan sesuatu tentang Tuhan Yang Maha Esa melalui perspektif kita sebagai manusia yang banyak sekali kelemahannya dalam pandangan Allah SWT. Salah satu contoh, kelemahan saya dalam pandangan Allah SWT adalah sampai detik ini saya belum mampu menahan satu (1) jerawat pun yang ingin tumbuh dan berkembang biak di pipi saya, sehebat apapun obat jerawat yang telah ditemukan oleh para ilmuwan dunia saat ini, namun mereka tetap tidak sanggup menahan laju pertumbuhan jerawat di wajah seseorang, kecuali hanya sebatas mengobatinya. Betul nggak saudaraku?

Jika ingin menyimpulkan sesuatu tentang Agama Islam atau Allah SWT (Tuhan Yang Maha Esa) maka kewajiban kitalah sebagai Umat Muslim untuk mempelajari Al-Qur’an lebih intens lagi dan mempelajari secara kontinyu ayat-ayat yang terkandung di dalamnya serta melakukan tadabur/ perenungan terhadap ayat-ayat Suci Al-Qur’an di alam semesta. Agar kelak ”Golden Age” zaman keemasan yang pernah diraih oleh Umat Islam di Dunia ini terulang kembali dimasa mendatang. Karena dalam kandungan ayat-ayat suci Al-Qur’an menyatakan bahwa, kemenangan itu dipergilirkan oleh Allah SWT disetiap zamannya. Zaman boleh berganti, namun keotentikan dan kekinian (secara kontekstual) Kitab Suci Al-Qur’an akan tetap terjaga dan terpelihara sampai akhir zaman dan saya yakin Janji Allah SWT itu PASTI... :)

Akhir kata saya berterimakasih kepada saudara seiman dan se-Islam di blog yang saya ikuti di ”Teras Imaji”... yang telah memberikan inspirasi kepada saya untuk melakukan ”Self Talk” (berdialog dengan diri sendiri dalam menemukan jawaban-jawaban yang Insya Allah dituntun oleh Hati Nurani). Sampai akhirnya mengalirlah dengan deras, deras, deras... rangkaian kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf... dan saya pun enggan untuk berhenti menulis... Subhanallah :)

Saling berbagi ilmu yang bermanfaat ya saudaraku, karena saya pun masih belajar menulis sampai detik ini. Jika ada kesalahan dan kejanggalan dalam tulisan ini, saya dengan senang hati menerima masukan dan saran yang konstruktif dari saudara-saudaraku yang lebih dulu menapaki dunia penulisan. Akhir kata saya mengucapkan terimakasih sebelumnya atas waktu dan perhatiannya dalam meluangkan sejenak waktu untuk membaca blog ini... :)

Fastabiqul Khairat... Mari berlomba-lomba dalam kebaikan... :)

Semoga kelak Allah SWT memperkenankan kita berkumpul di Jannah-Nya dengan Rahmat-Nya, Aamiiin. Karena tanpa Rahmat dari Allah SWT, sebanyak apapun amal ibadah yang kita lakukan di dunia ini belumlah sanggup untuk membayar nikmat-nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT semasa hidup kita di dunia, salah satu contohnya saja nikmat mata, tanpa sepasang mata, Maka... mungkin saya tak akan sanggup menggetik tulisan ini apalagi membacanya, Betul nggak saudara-saudaraku? 

Dari seorang saudara yang memiliki banyak sekali kelemahan dalam pandangan Allah SWT, yang menyayangi saudara-saudara seiman dan se-Islam karena Allah SWT.

Wassalam... :)

*****

Tulisan ini juga berlaku pada peringatan hari tahun baru Masehi yang akan diperingati beberapa hari lagi dalam hitungan mundur, jika kita mulai menelusuri sejarah tahun baru Masehi tersebut yang notabene bukan berasal dari nilai-nilai Islami. Ayo...Umat Islam Bangkit...dari tidur panjangmu. Bukan saatnya lagi untuk bermimpi, namun bangun dan realisasikan mimpimu menjadi nyata, sekalipun dalam kelemahan fisik yang mendera (Masak Kita mau kalah sama Syeh Ahmad Yasin dalam kondisi lumpuh dibalik kursi rodanya, namun Beliau mampu menggerakkan ribuan umat Islam di Palestina untuk melakukan gerakan Intifadah melawan negara penjajah dengan bersenjatakan batu dalam genggaman yang dilemparkan kehadapan musuh-musuh Allah serta menginspirasi begitu banyak Umat Islam di Dunia untuk melanjutkan perjuangan suci dalam menegakkan panji-panji Islam di muka bumi atau Steven Hawking, seorang ilmuwan fisika yang sangat briliant dengan keilmuannya dibalik keterbatasan fisiknya... Malu Saya).

Semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat bagi diri yang sering alpa ini, dan bagi saudara-saudaraku yang selalu berusaha melakukan evaluasi diri secara kontinyu dalam melakukan pembaharuan dalam diri (baik memperbaharui niat, memperbaharui tobat, memperbaharui Impian/ Cita-cita, dll),  because No Body's        Perfect In The World, But We Can Share Each Other To Make The Perfect World ... :)

Hamasah...
Keep Spirit..
Ganbatte Kudasai...
Pasya, Wacaca Fighting...
SEMANGAAAAAAAAAAAAAAT… :)


Bukittinggi, 29/12/2010.

Rabu, 22 Desember 2010

Menulis Itu Membutuhkan......???

Bismillah...

Berawal dari sebuah cita-cita yang masih terendap di dasar hati, memiliki keinginan untuk menjadi  seorang pengajar untuk orang-orang yang membutuhkan ilmu...

Saya mulai berfikir, "Apakah menjadi seorang pengajar haruslah bertitelkan Guru, Dosen, Ustadz, Ustadzah, Kiyai, dll?"
Ya...mungkin itu hanya sebuah sebutan bagi orang-orang yang dititipkan ilmu oleh Allah SWT dalam kontek formalitas yang terbentuk dari paradigma berpikir masyarakat.

Bagaimana dengan orang-orang yang memiliki ilmu dan senantiasa menginfakkan keilmuannya bagi banyak orang, namun tidak berada pada instansi formal, seperti: Sekolah SD, SMP/ MTsN, SMU/ MAN, Pesantren, Perguruan Tinggi, dan lembaga-lembaga formal maupun non-formal lainnya. Misalnya saja seorang Petani yang mengajarkan cara bercocok tanam kepada anak-anaknya, keluarganya maupun orang-orang disekitarnya, atau seorang Ibu yang senantiasa mendidik anak-anaknya dengan penuh ke Ikhlasan dan Kesabaran serta Kesyukuran, atau seorang Tukang becak yang menceritakan lika-liku pengalaman hidupnya kepada penumpangnya serta memberikan inspirasi tersendiri kepada orang-orang yang mendengarkan tutur katanya... Apakah mereka juga berhak dipanggil dengan sebutan "Guru"??!

Bagi saya definisi seorang guru itu adalah orang-orang yang dititipkan sedikit ilmu oleh Allah SWT dan dengan Ikhlas memberikan ilmu yang dimilikinya kepada siapa saja yang membutuhkan ilmu tersebut tanpa membeda-bedakan audiensnya baik melalui orang-orang bertitel ataupun tidak, baik kecil, remaja, dewasa ataupun lansia, baik pernah mengecap pendidikan formal ataupun tidak, namun mereka bisa memberikan pencerahan dari pengalaman-pengalaman yang dimilikinya kepada orang-orang yang senantiasa merendahkan hati dan menangkap setiap hikmah dari pengalaman-pengalaman hidup yang ada disekelilingnya. Ya, itulah definisi seorang guru menurut saya... :)

Kenapa saya mengatakan "sedikit ilmu" karena ilmu yang dititipkan oleh Allah SWT kepada manusia itu hanya merupakan sedikit dari ilmu yang dimiliki oleh Allah SWT. Jika kita menilik lagi dalam Al-Qur'an maka akan kita dapati beberapa ayat yang menjelaskan tentang sedikit ilmu tersebut.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an (Kitab Suci Umat Islam yang Insya Allah akan terpelihara sampai akhir zaman) dalam surat Luqman [31]: ayat 25-27, yang menerangkan bahwa :

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Tentu mereka akan menjawab: "ALLAH." Katakanlah: "Segala puji bagi Allah" ; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi. Sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (25-26)

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah(*). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (27)

Keterangan:

(*) Yang dimaksud dengan Kalimat Allah ialah: Ilmu-Nya dan Hikmah-Nya.

Kembali lagi ke topik tentang sebuah cita-cita saya yang masih terendap didasar hati... Ketika saya kehilangan komunitas untuk melakukan interaksi baik dalam menggali ilmu maupun berbagi ilmu, maka saya berpikir ada banyak potensi yang belum saya gali dalam diri saya, salah satunya adalah Menulis. Dalam keheningan dan kesendirian bersama Allah, Rabbul izzaty... Saya mulai mencari orang-orang yang kapabel dalam dunia penulisan di dunia maya dan diam-diam saya mulai belajar dari mereka bagaimana cara mengekspresikan setiap gagasan atau ide dan menuangkannya dalam bentuk tulisan. Setelah beberapa lama memulai belajar menulis di catatan fb, saya mulai mengambil kesimpulan bahwa :

Menulis itu membutuhkan Ilmu,
Menulis itu membutuhan Kejujuran,
Menulis itu membutuhkan Ketekunan,
Menulis itu membutuhkan Ketelitian,
Menulis itu membutuhkan Keheningan jiwa,
Menulis itu membutuhkan segenap Rasa,
Menulis itu membutuhkan Seni dan Keindahan,
Menulis itu membutuhkan Imajinasi dalam memvisualisasikan setiap kata-kata,
Menulis itu membutuhkan Kenikmatan dalam kegiatan menulis itu sendiri,
Menulis itu membutuhkan Semangat tak bertepi,

Hmm, menulis itu membutukan apa lagi ya...?

Melakukan kegiatan menulis seperti melakukan "Self Talk", Ya... Seperti berbicara pada diri sendiri dalam menemukan setiap jawaban yang dituntun oleh Hati Nurani.

Tulisan itu memiliki kekuatan dan keajaiban jika mengandung nilai-nilai kebenaran dan kebaikan dan jika dibaca, dipahami, dimaknai serta diaplikasikan dalam kehidupan... :)

Bahkan tulisan bisa menjadi salah satu sarana untuk merubah peradaban, seperti halnya Kitab Suci Al-Qur'an yang Insya Allah terpelihara sampai akhir zaman... :)

So Guys, Ayo menulis...

Kata Alm. Pramudia Ananta Toer (Seorang Penulis Novel/ Novelis) :
"Nak... Tanpa menulis kamu bukan siapa-siapa di dunia ini".

Karena jiwa boleh berpisah dari raga, namun tulisan tetap abadi sepanjang masa... :)


*****


Saya mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT, "Alhamdulillah". Dan berterimakasih kepada para guru yang telah mewarnai kehidupan ini dengan ilmu yang bermanfaat serta kepada para penulis yang telah berkarya baik di dunia nyata maupun di dunia maya, Terimakasih atas ilmu yang telah diberikan. Semoga menjadi amal jariyah yang tak pernah putus sampai akhir zaman, Aamiiin Ya Rabbal'alamiiin... :)


Bukittinggi, 22/12/2010.

Jumat, 17 Desember 2010

Gelora Bung Karno

Bismillah…

Oleh: Rahmi Chirta Saumy


..::Gelora Bung Karno::..

Ini tentang sebuah spirit kebangsaan, ini tentang sebuah cita-cita besar para pendiri bangsa yang terdiri dari ratusan pulau yang tersebar dipelosok Nusantara, ini tentang prestasi yang diukir oleh putra-putra bangsa, ini tentang pertandingan sepak bola AFF 2010 di Gelora Bung Karno, Jakarta.

Dulunya saya tidak terlalu tertarik menyaksikan pertandingan sepakbola, baik lokal, nasional, maupun pertandingan sepak bola dunia. Namun ada yang beda pada pertandingan sepak bola AFF 2010 yang diadakan di Gelora Bung Karno, Jakarta kali ini. Pada suatu ketika saya membuka beranda fb, di sana saya temui komen-komen yang nyaris hampir sama yang menyebutkan angka skor pertandingan sepak bola Indonesia Vs Malaysia (5-1). Ketika membuka situs m.republika.com saya menemukan sederetan nama yang telah berhasil menggolkan bola ke gawang lawan, seperti Bambang pamungkas, Irfan Bachdim, Chistian Gonzales, dll. Saya mulai tertarik untuk mencari tahu informasi lebih lanjut tentang mereka. Oh…ternyata memang ada sedikit perbedaan dari pertandingan sebelumnya, Tim Indonesia memiliki dua pemain naturaisasi yaitu, Irfan Bachdim (blesteran Belanda-Indonesia), dan Chiristian Gonzales (Chili). Ini merupakan perkembangan yang sangat menarik dalam kancah persepak bolaan Indonesia…walaupun saya bukan merupakan pengamat sejati sepak bola namun dari prestasi yang telah diukir satu persatu dalam setiap pertandingan AFF 2010 ini, Insya Allah saya Optimis Indonesia berhasil maju ke babak selanjutnya. Dan semoga suatu saat bisa mengharumkan nama bangsa di kancah pertandingan sepak bola dunia, Aamiiin.

Sudah terlalu lama kiranya masyarakat Indonesia menantikan kebangkitan putra-putra bangsa diranah pertandingan sepak bola. Dengan bukti banyaknya supporter, baik dari daerah Jawa maupun luar Pulau Jawa yang tertarik menyaksikan langsung pertandingan AFF 2010 ini dengan merogoh kocek untuk transportasi dan penginapan, serta pembelian karcis yang katanya sekarang telah melambung dua kali lipat harga karcis biasa di Gelora Bung Karno. Bagaikan semangat Bung Karno yang mampu menggelorakan putra-putra bangsa ini menuju ke medan perang untuk mengusir bangsa penjajah agar terwujudnya sebuah cita-cita bernama Kemerdekaan.

Saya juga belum bisa melupakan potret buram prestasi Tim Indonesia yang terendap beberapa tahun silam… Saking geramnya dengan prestasi yang tak kunjung hinggap dalam beberapa pertandingan, sampai-sampai salah seorang supporter memberanikan diri untuk masuk menerobos lapangan dan merebut bola dari para pemain dan mengaraknya ke gawang lawan, walaupun pada akhirnya dirinya di dekap oleh para petugas dan digiring keluar lapangan. Saya acungi jempol pada salah seorang supporter tersebut meskipun tak mengetahui namanya dan saya tak mengenalnya. Bisa jadi sikapnya menjadi sebuah cambukan tersendiri bagi Tim Indonesia untuk berani mengerahkan seluruh potensinya di setiap arena pertandingan. Boy…Kamu memang Supporter sejati. Supporter yang bisa menggerakkan, supporter yang tak sekedar bersorak-sorai dibalik pembatas-pembatas yang mengitari lapangan, dan menjadi supporter yang akhirnya terekspos oleh media karena jiwa ke-Heroikannya.

Beberapa waktu lalu saya juga sempat menyaksikan sekilas wawancara antara pembawa berita di TV One dengan Christian Gonzales bersama Istrinya di kediaaman Gonzales atau dikenal juga dengan nama El Loco. Ada hal menarik yang saya tangkap dari wawancara tersebut yaitu ketika Gonzales ditanyai tentang agama apa yang dia anut, dengan mantap ia menjawab, “Muslim”, kemudian pembawa acara menanyakan tentang kisahnya ketika mendapatkan hidayah, ia berkata, ”Saya dulu pernah tinggal di Makassar dan sering mendengarkan suara adzan di mesjid, pada saat itu mulai tertarik dengan Islam”. Tiba-tiba pembawa acara menyambungkannya dengan seorang kepala biro perjalanan/tour Umrah ke Mekkah. Kepala biro tersebut tergugah dengan cerita El Loco ketika tertimpa musibah maka ia memilih sikap dengan cara mendekatkan diri kepada Allah. Lalu kepala biro tersebut menawarkan Umroh kepada El Loco, berhubung El Loco kurang mengerti bahasa Indonesia maka Istrinya lah yang angkat bicara dan berkata, “Sebelumnya kami berdua sudah pernah beberapa kali merencanakan untuk berangkat Umroh namun tiap kali mendapatkan rezeki lebih, selalu saja ada musibah dalam keluarga yang membutuhkan banyak dana, Gonzales sendiri dari dulu sudah punya niat untuk Umroh namun karena kondisi yang tak memungkinkan akhirnya belum terealisasi sampai sekarang”. Lalu kepala biro itu menawarkan Umroh Free buat El Loco dan Istrinya. Serta merta istrinya berujar “Alhamdulillah” kemudian menerangkan ke El Loco bahwa mereka mendapatkan tawaran Umroh gratis dari sebuah biro perjalanan/ tour Umroh. Wajah El Loco memerah entah apa yang sedang dipikirkannya pada saat menerima kabar gembira tersebut lalu ia berujar, “Terimakasih”.

Subhanallah…kisah yang luar biasa. Saya juga sempat memperhatikan dari televisi serta melihat keriangan anaknya yang berpose bak foto model di atas meja yang terletak di belakang El Loco dan Istrinya...(Lucunya ^^) 

Go Garuda, You Can Fly… So Flap Your Wings 


Bukittinggi, 17/12/2010.