Senin, 10 Januari 2011

Mengungsikan Catatan Berharga di Akun FB

Bismillah...

Baru-baru ini saya membaca sebuah berita di m.detik.com yang di add oleh seorang teman di FB. Dalam berita itu dinyatakan bahwa Mark Zuckerberg, sang pemilik Facebook akan segera menutup Facebook yang penggunanya mencapai 500 juta orang diseluruh dunia pada tanggal 15 Maret 2011 mendatang seperti yang dikutip dalam situs weeklyworldnews.com. Benarkah???

Mark Zuckerberg sebenarnya merasa berat untuk mengambil keputusan ini. Namun ia ingin mengakhiri kesembrawutan yang terjadi bagi para pengguna FB diseluruh dunia akhir-akhir ini.

Ia berkata, "Sejujurnya, ini cara yang terbaik. Tanpa Facebook, orang-orang akan pergi ke luar dan menjalin pertemanan yang sesungguhnya. Itu selalu menjadi hal yang baik".

Saya setuju dengan pendapat tersebut. Karena saya pun merupakan salah seorang yang mulai terjangkit zat adiktif fb (namun tujuannya cuma untuk menjalin pertemanan dan sharing ilmu). Bagaimanakah cara menyembuhkannya? Mungkin dengan penutupan jejaring sosial fb bisa menjadi salah satu obat penawarnya...xixi :)

Usut punya usut ternyata seperti yang diinfokan oleh m.detik.com, baru situs weeklyworldnews.com yang memberitakan hal ini. Dan situs ini merupakan situs parodi yang isinya jauh dari kebenaran menurut keterangan m.detik.com...

Benar atau tidaknya info ini, kita lihat saja nanti tanggal 15 maret 2011.

Jika benar, saya harus mengungsikan beberapa catatan-catatan berharga saya di fb. Jika tidak, saya juga tetap akan mengungsikan catatan tersebut ke blog "Taman Hati", xixi :)

Namanya juga "Taman Hati" yang definisinya adalah sbb:

"Adalah taman tempat merenung dari perjalanan panjang. Adalah taman tempat kita berdialog dengan suara yang jernih. Adalah taman tempat kita mendengar suara nurani. Adalah taman tempat kita berteduh dan bernaung, agar langkah berikutnya lebih tertuntun dengan Hidayah Allah SWT. Karena, adalah Raja... Bila hati itu baik maka baiklah seluruh pasukannya... Dialah Hati... :)

Untaian kata indah ini saya dapatkan dari seorang saudara seiman bernama Ummu Daffa Farras, terimakasih Ummu. Untaian kata indah inilah yang menggerakan saya untuk memberi blog ini nama "Taman Hati".

Tujuan awal menerbitkan blog Taman Hati ini adalah untuk memotivasi diri sendiri disaat jiwa ini sedang rapuh dan butuh bimbingan serta secerca Hidayah dari Allah SWT. Tulisan-tulisan di Blog "Taman Hati" ini berupa opini-opini, renungan-renungan, pengalaman-pengalaman, motivasi-motivasi yang pernah singgah beberapa saat dihati, pikiran, perkataan, tindakan dari saya sebagai pemilik blog. Namun tak tertutup kemungkinan saya mengutip beberapa tausiyah-tausiyah dari referensi lain, dari buku-buku, dari e-book, atau dari lagu-lagu yang inspiratif bagi saya, yang tujuannya hanyalah sekedar untuk memotivasi diri. Jika suatu saat saya membutukan secerca motivasi maka saya akan membuka kembali file-file yang terangkum dalam blog "Taman Hati" ini.

Bagi teman-teman yang ingin men-share/membagikan artikel-artikel yang ada di Blog Taman Hati ini, saya persilahkan...karena tulisan-tulisan/ artikel-artikel ini hanya mampir sesaat dibenak saya lalu menjelma menjadi sebuah tulisan dari sesuatu yang pernah saya alami, sesuatu yang pernah saya rasakan, sesuatu yang pernah saya pikirkan, atau berusaha mencari solusi dari pertanyaan-pertanyaan yang bercokol di kepala dengan cara mengetik ulang ayat-ayat suci Al-Qur'an, Hadits, dan tausiyah-tausiyah yang berharga dari para Da'i.

Teman...ada rumus baru ni dari saudara seperjuangan. Nama rumusnya adalah rumus ABC... yuk kita baca bersama:

A = Ambil yang baik
B = Buang yang buruk
C = Ciptakan yang baru

Alhadulillah, akhirnya selesai juga. Horeeeee... ^^

SEMANGAT :)

*****

Catatan ini diketik Via Handphone...
Jika saya berkesempatan ke warnet terdekat, Insya Allah... Saya akan memposting tulisan terbaru. Mudahkanlah ya Allah, Aamiiin... :)


Bukittinggi, 10/1/2011

Jumat, 07 Januari 2011

Sang Murabbi

Bismillah...


Setiap kali saya mendengarkan sebuah lagu yang pernah dinyanyikan oleh Grup Nasyid Izzatul Islam yang berjudul "Sang Murabbi" (artinya Sang Guru) selalu saja secerca semangat/ghiroh muncul kembali kepermukaan dan menguatkan azzam untuk mengikuti jejak Sang Murabbi. Begitu lantang hentakannya, begitu indah syairnya, begitu dalam maknanya...


Saya ingin mematrinya dalam tulisan ini agak dapat menjadi penguatkan dikala azzam mulai melemah, dikala ghiroh mulai merendah, dikala keimanan mengalami keadaan fluktuatif (keadaan naik-turun), agar pesan-pesan dalam lagu ini dapat menguatkan yang lemah, meninggikan yang rendah, dan menyeimbangkan keadaan yang fluktuatif, Aamiiin... :) 

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan mu yang menciptakan... (Al-'Alaq: 1)



SANG MURABBI

Selayaknya... (menarik nafas)
Bagi jiwa-jiwa yang meng-azzamkan dirinya menjadikan da'kwah sebagai laku utama...
Dialah Visi...
Dialah Misi...
Dialah Obsesi...
Dialah yang menggelayuti disetiap desah nafas...
Dialah yang akan mengantarkan jiwa-jiwa ini kepada ridho dan maghfiroh Tuhan nya kelak...
(Sebuah Puisi)

Ribuan langkah kau tapaki...
Plosok negeri kau sambangi...
Ribuan langkah kau tapaki...
Plosok negeri kau sambangi...

Reff:
Tanpa kenal lelah jemu...
Sampaikan firman Tuhan mu...
Tanpa kenal lelah jemu...
Sampaikan firman Tuhan mu...

Terik matahari...
Tak surutkan langkah mu...
Deru hujan badai...
Tak lunturkan azzam mu...
Ragakan terluka...
Tak jerihkan nyali mu...
Fatamorgana dunia...
Tak silaukan pandang mu...
Semua makhluk bertasbih...
Panjatkan ampun bagi mu...

(Kembali ke Reff)


Duhai Pewaris Nabi...
Duka fana tak berarti...
Syurga kekal dan abadi...
Balasan Ikhlas dihati...

Cerah hati kami...
Kau semai nilai nan suci...
Tegak panji Illahi...
Bangkit generasi Rabbani...

Duhai Pewaris Nabi...
Duka fana tak berarti...
Syurga kekal nan abadi...
Balasan Ikhlas di hati...

*****

Ya Allah... 
Give Me The Power To Do The Great Thing In My Life, Aamiiin... :) 


Bukittinggi, Terbitan awal di catatan fb hari Selasa, tanggal  4/1/2010.

Cangkir Yang Cantik


Bismillah...

Sepasang suami dan istri pergi berbelanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat anak mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik. "Lihat cangkir itu," kata si istri kepada suaminya. "Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat," ujar si suami.

Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara "Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang pengrajin dengan tangannya melempar ku ke sebuah roda berputar.

Kemudian ia mulai memutar-mutar ku hingga aku merasa pusing. Stop! Stop! Aku berteriak, tetapi orang itu berkata "belum !" lalu ia mulai menyodok dan memukulku berulang-ulang.
Stop! Stop! Teriakku lagi. Namun orang ini masih saja memukulku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas! Panas! Teriakku dengan keras. Stop! Cukup! Teriak ku lagi. Namun orang ini berkata "belum !"

Akhirnya ia mengangkat ku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan ia mulai mewarnai ku. Asapnya begitu memualkan. Stop! Stop! Aku berteriak.

Wanita itu berkata "belum !" lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya, Tolong ! Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis aku teriak sekuat-kuatnya. Namun orang ini tidak peduli dengan teriakanku. Ia terus membakarku. Setelah puas "menyiksaku" kini aku dibiarkan dingin.

Setelah benar-benar dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena dihadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.

******

Teman...Aku mengambil cerita ini dari sebuah E-book Motivasi yang pernah diberikan teman terbaikku bernama "Vivta Sabrina". Kisah ini mengingatkan ku betapa hidup ini penuh dengan tempaan-tempaan bermakna setiap saat. Terkadang kita sering merintih, berteriak sekuat-kuatnya akibat tempaan-tempaan yang kita terima tiap harinya. Namun yakinlah teman, suatu saat kau akan tersadar bahwa tempaan itulah suatu saat yang akan mengajarkan kepadamu tentang sebuah kedewasaan, tentang sebuah kebijaksanaan, tentang sebuah makna kehidupan. Suatu saat kau akan tersadar di saat Allah SWT menepatkan mu dimana semestinya engkau layak untuk diletakkan, ketika Allah SWT telah selesai menempamu menjadi sebuah permata yg sinarnya berkilau menerangi orang-orang yang berada didekatnya. Sabarlah teman...kau hanya butuh kesabaran dan ketabahan dalam menjalani prosesnya... :)

Aku ingin berteriak sekuat-kuatnya, "SEMANGAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAT," buat tempaan yang kita hadapi setiap saat dari Allah SWT.

Semoga catatan ini bermanfaat untuk memotivasi diriku, dirimu, dan kita semua... \(^_^)/


Bukittinggi, terbitan awal dari catatan fb tanggal 17/11/2010. 

Senin, 03 Januari 2011

Motivator Dalam Dunia Penulisan


Bismillah...

Ada banyak orang yang telah memberikan motivasi dalam dunia penulisan, namun tiap orang akan memiliki figur-figur penulis tersendiri yang mengena pada diri mereka, bisa jadi ada beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang untuk memiliki figur-figur penulis yang bisa memberikan inspirasi kepada mereka untuk memulai dunia penulisan, salah satunya adalah karena memiliki berbagai kesamaan, misalnya: memiliki keyakinan yang sama, memiliki bidang keilmuan yang sama, memiliki karakter penulisan yang unik dan menarik, memiliki kisah hidup yang unik, memiliki minat yang sama, memiliki pandangan yang mencerahkan, memiliki kemiripan hoby dan banyak lagi kesamaan-kesamaan lain yang bisa mereka singkronkan pada diri mereka.

Dalam menemukan seorang motivator pada dunia penulisan, saya pun akan tertarik oleh sebuah gravitasi yang bernama ‘kesamaan’. Dalam menentukan penulis-penulis yang bisa menarik kita pada gravitasi kesamaan itu tidaklah bisa dipaksakan. Tarikan gravitasi itu akan berjalan secara alami. Kata saudara saya sih seperti memilih teman akrab/sahabat, pertemanan akrab/persahabatan itu tidaklah bisa dipaksakan. Ia akan berjalan secara alami. Dalam perjalanannya membina persahabatan maka ia akan menemui banyak kesamaan yang menyertai dirinya, mungkin suatu waktu akan ada benturan-benturan kecil dari perbedaan pendapat yang menyertai pandangan mereka, namun hal itu bisa ditepis dengan saling harga-menghargai dan saling hormat-menghormati dalam menyikapi perbedaan pendapat tersebut. Sama halnya ketika Allah SWT menciptakan anak kembar dari rahim seorang ibu, mereka memiliki satu ibu yang sama namun Allah SWT menciptakan mereka dengan karakter yang tidaklah sama sekalipun mereka memiliki kemiripan pada bentuk wajah.       

Begitu juga halnya ketika saya memilih figur-figur penulis yang mampu membangkitkan semangat saya dalam bidang penulisan. Ada banyak penulis yang menginspirasi saya dalam bidang penulisan dari karya-karya yang telah mereka lahirkan, namun ada beberapa penulis yang karya-karyanya terasa lebih mengena di hati, ketika saya membaca hasil pemikiran, perenungan, refleksi mereka dalam melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda atau sudut pandang yang tepat, misalnya saja Aid Al Qarni,  Bunda Neno warisman, Taufiq Ismail, Habiburrahman El Shirazy, Renal Kasali, Andrea Hirata,  dan masih banyak lagi penulis yang telah berkarya dan berjasa dalam memberikan pencerahan .

Beberapa penulis yang saya sebutkan di atas telah berhasil melahirkan banyak karya yang mampu mengubah paradigma, menyentuh hati, dan melahirkan sebuah kesadaran dalam melakukan perubahan pada kebaikan. Dari beberapa penulis yang saya sebutkan di atas ada tiga orang penulis yang pernah saya jumpai yaitu Pak Taufiq Ismail, Ustadz  Habiburrahman El Shirazy, dan Renald Kasali. Namun ada beberapa penulis lain yang penah saya jumpai dan belum bisa saya bahas satu-persatu dalam tulisan ini yaitu: Solikhin Abu Izzudin, M. Nur Lili Auliya, Herry Nurdi, Salim A. Fillah, KH. Abdullah Gymnastiar, Bambang Rudito, Prof. Damsar Azis, Bob Sadino, dll…yang memberikan kesan tersendiri buat saya.

Ketika bertemu dengan Pak Taufik Ismail dalam sebuah acara dalam rangka  memperingati kelahiran Muhammad Hatta pada tanggal 12/8 beberapa tahun silam di UNAND, pada saat Pak Taufiq Ismail berkesempatan membacakan puisi berjudul “Malu (aku) jadi orang Indonesia”, saya tergugah pada saat mendengar beliau melantunkan puisi tersebut. Beliau membacakan puisi tersebut penuh dengan pemaknaan serta penghayatan dan yang terpenting beliau membacakan karya itu dengan menggunakan hati. Pada saat beliau membacakan puisi tersebut, pesan yang beliau sampaikan melalui puisi tersebut seakan-akan meresap kedalam hati karena beliau membacakan puisi tersebut juga melalui pemaknaan dan penghayatan yang diutarakan melalui hati. Saya sekan-akan merasa seperti seorang cucu yang sedang dinasehati oleh seorang kakek bijaksana yang memberikan kesegaran kepada jiwa yang haus akan nasehat-nasehat berharga.

Entah berapa ratus kali beliau membacakan puisi-puisi di depan umum baik di dalam negeri maupun di luar negeri, namun saya yakin latihan/ proses berulang-ulang itu lah yang menghantarkan beliau pada sebentuk kesadaran dalam menyampaikan puisi dari dasar hati yang terdalam dari diri seorang Taufiq Ismail. Bagi beliau, puisi baru ‘memperoleh tubuh yang lengkap’ jika setelah ditulis, lalu dibacakan di depan orang, Subhanallah…

Lain lagi ketika saya bertemu dengan seorang penulis sastra best seller Ustadz Habiburrahman El Syirazi di UNAND dalam rangka promosi Film KCB beberapa tahun silam yang mendatangkan beberapa artis pendatang baru dari Film KCB tersebut. Menurut pengamatan saya sekilas, beliau memiliki perwakan yang tenang, namun ketika beliau menjawab beberapa pertanyaan dari para penanya pada saat session tanya-jawab, maka terlihatlah seberkas cahaya keimanan, kecerdasan, dan daya yang menggerakkan pada setiap ucapan-ucapan yang terlontar dari hatinya, dari pikirannya, dari perkataannya, dan dari perbuatannya. Di akhir acara saya mencoba menghampiri beliau di balik kerumunan penggemar yang mengambil kesempatan untuk berfoto bersama. Saya menunggu beberapa saat, lalu berkata, “ Kang Abib boleh minta tanda tangannya nggak?” pada saat itu kebetulan saya membawa sebuah buku yang berjudul “Zero To Hero” karangan Solikhin Abu Izzudin, pada saat saya menyodorkan buku tersebut untuk ditanda tangani, beliau mengambil alih buku itu dari tangan saya lalu memegang pena dan menandatangani kertas putih yang berada dibalik sampul buku tersebut tanpa berkata apa-apa, lalu saya bertanya lagi, “Kang Abik boleh minta nomor HP-nya nggak?”, kembali beliau menuliskan nomor HP beliau di bawah tanda tangan yang terletak pada kertas putih yang berada dibalik sampul buku tersebut dengan ekspresi yang datar-datar saja, saya seraya berujar “Terimakasih Kang Abik…” dan beliau menganggukkan kepala, dalam hati saya berkata, “What? Cool banget :)”. Namun kedatangan beliau ke UNAND tetap memberikan kesan tersendiri buat saya.

Pada saat saya bertemu dengan Pak Renald Kasali dalam sebuah acara workshop wirausaha yang diselenggarakan oleh Bank Mandiri dengan tema “Semangat… Generasi Mandiri” yang diadakan di Gedung ruang sidang Bung Hatta dan terletak bersebelahan dengan Hill Hotel Bukittinggi, pada tanggal 10/6/2008.  Beliau merupakan salah seorang motivator dalam bidang ekonomi yang telah berhasil menyemangati banyak orang dalam hal kemandirian financial/keuangan. Telah banyak terobosan-terobosan yang berhasil beliau kembangkan salah satunya mengolah sampah menjadi bahan daur ulang dan uniknya sampah yang dikelolah oleh para tenaga kerja, tidak meninggalkan bau tak sedap karena pengelolaan sampah tersebut diproses dengan mencampurkan bakteri penghilang bau kedalam tumpukankan sampah-sampah tersebut. Jadi bagi orang-orang yang ingin menyempatkan diri melihat pengelolaan sampah tersebut tak perlu repot-repot  lagi menutup hidung dikarenakan bau yang tak sedap (kata Pak Renald Kasali), kecuali bagi mereka yang memiliki frem berfikir bahwa sampah itu bau dan mereka tidak mau mencoba merubah frem berfikir mereka pada saat dihadapkan dengan tumpukan sampah yang sebenarnya sudah disterilkan dari bau dengan menggunakan bakteri penghilang bau. 

Beliau memiliki keilmuan, semangat dan antusiasme yang tinggi serta memiliki kemampuan untuk menularkan keilmuan, semangat dan antusiasme tersebut kepada banyak orang temasuk kepada saya yang waktu itu berada dibalik kursi yang dihadiri oleh ratusan mahasiswa pada beberapa perwakilan Universitas, baik Universitas negeri maupun swasta, subhanallah…(Alhamdulillah Ya Allah).

Beberapa bulan belakangan ini saya cukup sering mengikuti beberapa blog di Internet, salah satunya http://timurangin.blogspot.com/, pemilik blog tersebut bernama Yusran Darmawan. Saya pertama kali berkenalan dengan pemilik blog tersebut di dunia maya,  pada saat seorang dosen bernama Buk Yevita Nurti meng-add undangan pernikahan beliau dari sebuah blog, kalau saya tidak salah blog kompasiana. Buk Yevita Nurti merupakan seorang dosen yang mengajar dibidang antropologi UNAND dan beliau juga merupakan salah seorang dosen yang pernah mengajar saya sebagai mahasiswa beliau di jurusan Antropologi UNAND, Padang, Sumatera Barat. Pada saat itu saya membaca sebuah tulisan yang terselip dalam undangan pernikahan di jejaring sosial tersebut. Pada saat saya membaca untaian kata-kata yang ada dalam undangan tersebut saya berfikir, “Wah...Antro banget, siapakah gerangan sang pemiliki tulisan ini?” lalu saya melacaknya di jejaring sosial FB dan mencoba meng-add untuk menjalin pertemanan. Tak lama berselang saya pun mendapatkan konfirmasi dari pemilik akun FB tersebut. Awalnya saya agak canggung mau manggil apa, ketika saya melihat info di akun beliau tertulis domisili Jakarta (pada saat itu), saya kira ‘orang jawa’ lalu saya menulis sesuatu dikolom komentar, “terimakasih mas sudah dikonfirm”, serta memberikan ucapan selamat pada pernikahan beliau dengan seorang gadis Bugis bernama Dwi agustriani. Namun lambat laun saya baru tahu beliau kelahiran Bau-bau dari blog pribadi yang beliau kelola. Selang beberapa lama melihat tulisan-tulisan beliau beberapa kali memenuhi beranda FB, tiap kali saya membaca tulisan-tulisan beliau saya selalu mendapatkan pencerahan-pencerahan baru dalam bidang ilmu sosial budaya/ humaniora. Setelah selesai membaca karya-karya tulis tersebut saya selalu menekan tombol jempol untuk mengapresiasi setiap karya tulis beliau. Sampai suatu ketika saya membaca sebuah artikel hasil resensi sebuah buku yang berjudul “Keep Your Hand Moving”. Pada saat itu saya merasa butuh akan ilmu yang ada di dalam tulisan tersebut. Lalu saya memberanikan diri untuk mengontak ke In Box beliau dan minta dikirimkan tulisan “Keep Your Hand Moving” ke dinding FB saya, serta minta izin untuk mengutip tulisan yang berjudul “Menulis dan Meditasi” dari blog beliau. Pada saat itu beliau mengizinkan dan berkata “Silakan” dari jawaban pesan yang saya terima di In Box saya. Tak lama kemudian saya pun mendapatkan kiriman sebuah tulisan yang berjudul ”Keep Your Hand Moving” yang berisikan trik-trik menulis yang simpel, pada saat itu saya menulis sesuatu di kolom  komentar, ”Thank’s Bang Yusran, Insya Allah... I Will Keep My Hand Moving”. Ternyata komentar yang saya tulis tersebut menjelma menjadi sebuah janji yang mengikat diri saya sendiri untuk memulai kembali belajar menulis yang notabene saya telah lama absen dari dunia penulisan. Satu hari setelah itu ketika saya membuka beranda, ada satu kiriman tulisan lagi yang saya terima dari beliau kalau tidak  salah dari blog kompasiana kepunyaan beliau yang dikirimkan ke beberapa teman lainnya termasuk salah satunya Buk Yevita Nurti. Saya cukup surpise dengan tulisan tersebut yang mengungkapkan tentang profil Bung Hatta, yang notabene saya belumlah terlalu mengenal sosok Bung Hatta secara utuh dari karya-karyanya. Namun saya rasa ada maksud tersirat dari pengiriman tulisan tersebut yaitu di negeri yang saya tempati di Bukittinggi ini telah lahir seorang tokoh nasional yang mengharumkan nama bangsa dan akhirnya sosok itu menjelma menjadi sebuah sosok yang memotivasi saya untuk mulai menulis kembali, walaupun hanya sebatas belajar mengemukakan opini di catatan FB. Dua bulan belakangan saya baru menyempatkan diri untuk membuat sebuah akun blog bernama Taman Hati di http://rahmi-chitra-saumy.blogspot.com/. Walaupun saya belum konsisten memposting tulisan setiap hari, karena keterbatasan sarana internet. Internet permanen yang saya andalkan saat ini baru sebatas akses internet melalui handphone, jika ingin memposting tulisan di blog, maka saya harus menyempatkan diri untuk mampir ke internet (Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah mempertemukanku dengan orang-orang yang capable dalam dunia penulisan di saat saya membutuhkan guru-guru dalam bidang tersebut).

Pada tanggal 31/12/2010 beliau menggenapkan tulisan di blog timur angin dengan angka statistik 1000 tulisan, Wauw! Fakta ini kembali mengingatkan saya pada sebuah kata-kata hikmah bahwa ”satu keteladanan itu lebih berharga dari seribu kata-kata” dan beliau telah memberikan satu keteladanan dalam ”bidang penulisan” dari buku yang pernah beliau resensi dalam blog timur angin yakni ”Keep Your Hand Moving”. Terimakasih Bang Yusran dan Dwi Agustriani serta para penulis yang telah banyak menghasilkan karya-karya nyata, atas ilmu-ilmu yang sangat bermanfaat... Semoga menjadi amal jariah yang tak terputus hingga akhir zaman, Aamiiin. Salam buat Dwi Agustriani, Semoga pernikahannya dipenuhi dengan keberkahan dan kebahagiaan oleh Allah SWT, Aamiiin Yaa Rabbal’alamin.

*****

Bagi teman-teman yang tertarik pada bidang-bidang ilmu sosial dan Humaniora, saya merekomendasikan Blog Yusran Darmawan, di http://timurangin.blogspot.com/. Untuk menjadi salah satu referensi bacaan di dunia maya. Bahkan seorang penulis blog bernama Pak Hamzah Palalloi pernah membuat sebuah artikel di kompasiana tentang tulisan beliau yang berjudul “Bernyawa Dalam Kata”. Jika Anda tak percaya, buktikan sendiri...


SEMANGAT...


Bukittinggi, 3/1/2011.         

Proses Belajar Menulis


Bismillah…

Sudah begitu banyak para penulis yang menuangkan ide dan gagasannya dalam sebuah tulisan beribu-ribu tahun silam sampai saat ini. Dan lautan ilmu yang ada di alam semesta ini takkan pernah habis-habisnya jika dituangkan ke dalam tulisan, berapa puluh ribu lembar pun kita mengeksploitasi ilmu pengetahuan yang ada di langit dan di bumi tak akan ada kata cukup, karena ilmu selalu bergerak dinamis mengikuti perkembangan zaman.

Saya hanyalah seorang pemula dalam dunia penulisan. Menurut saya tak ada kata final dalam mengasah kemampuan menulis, setiap orang akan selalu belajar mencari bentuk yang sesuai dengan keyakinan, bidang keilmuan, karakter kepribadian,  minat, bakat,  dll…yang mengkristal dalam diri mereka.

Ketika saya mulai kembali mengasah kemampuan menulis beberapa bulan belakangan ini setelah sekian lama absen dari dunia penulisan, ada beberapa kendala yang sering saya temui dalam proses belajar menulis yang notabene saya baru merupakan seorang pemula yang mulai mencari-cari bentuk dalam dunia penulisan, salah satu kendala yang sering menghinggapi tulisan saya adalah Ketidak-telitian.
  • Terkadang setelah selesai menulis dan melihat pratinjau di blog, tulisan itu siap untuk diterbitkan. Setelah terbit saya mencoba membaca ulang kembali... ternyata saya menemukan banyak kesalahan dalam pengetikan. Dan saya mencoba mengeditnya kembali. Hal itu terjadi berulang-ulang, dan akhirnya saya mulai berhati-hati dalam mengetik dan mengedit.
  • Pernah suatu kali iseng-iseng saya membaca kembali tulisan yang pernah saya tulis baik di blog maupun di catatan fb... setelah membaca kata per kata, kalimat per kalimat, paragraf per paragraf terkadang saya mulai menemukan kata-kata yang makna katanya kurang mengena, dan akhirnya saya mulai mencari kata-kata yang makna katanya lebih halus dan menyentuh hati.
  • Bahkan suatu kali ketika saya sedang asyik-asyiknya mengetik tulisan di catatan fb melalui handphone yang satu tombol keypad-nya saja terdiri dari 3-4 huruf berjejer dan jika saya ingin mengetik huruf ’S’ maka saya harus menekan keypad 4 kali. Awalnya tangan saya terasa agak kaku, namun lama-lama saya mulai terbiasa dan mulai menikmati bergelut dalam dunia penulisan.
  • Yang lebih menguji kesabaran lagi, ketika saya sedang asyik-asyiknya mengetik di handphone, eh...ternyata handphone saya low battre. Huft... saya mulai menyemangati diri sendiri jika saya bisa menuliskan beberapa paragraf sebelumnya maka saya harus bisa menulis ulang kata per kata, kalimat per kalimat, paragraf per paragraf agar lebih baik dari sebelumnya.      
Namun bagi saya itulah proses belajar, seperti halnya seorang bayi yang baru belajar berdiri. Pada awalnya ia memulai belajar berpindah tempat dengan merangkak, lalu mencoba-coba untuk berpegangan pada orang-orang terdekatnya agar ia dituntun untuk berjalan, akhirnya selang beberapa waktu kemudian ia mencoba melepaskan tangannya dari orang-orang yang menuntunnya, dan berusaha berpijak pada kakinya sendiri meskipun sesekali ia harus terjatuh karena kehilangan keseimbangan namun ia tetap gigih dalam belajar berdiri. Proses belajar menulis juga memiliki kesamaan dengan seorang bayi yang baru belajar berjalan. Tak jarang saya menemui kesalahan-kesalahan kecil  dalam menapaki dunia penulisan. Jika saya melakukan berbagai kesalahan dalam proses menulis, saya selalu menyemangati diri saya dengan sebuah ungkapan yang pernah saya baca dalam sebuah buku berjudul ”Peace Of Mind” karangan Sandi MacGregor yang diterbitkan oleh gramedia, Jakarta. Dalam buku itu diutarakan bahwa:

”Tahukah Anda berapa banyak percobaan sebelum lampu pijar ditemukan? Lebih dari seratus ribu! Dan setelah itu Edison sebenarnya menemukan 5000 lampu pijar sebelum menyempurnakannya. Seorang reporter menanyakan kepadanya bagaimana ia bisa mengatasi begitu banyak kegagalan. Pada saat itu Edison dianggap sebagai seorang profesor yang aneh. Dan jawaban Edison adalah, ”itu bukanlah kegagalan. Saya baru saja menemukan 5000 cara yang salah untuk membuat lampu pijar”. Begitu dalam kebenaran-nya dan sangat positif bahasanya. Dengan kegagalannya. Ia menganggapnya sebagai batu loncatan menuju sukses”, (hal.76-77).

Akan ada banyak kesalahan-kesalahan, kejanggalan-kejanggalan, kegagalan-kegagalan yang menghampiri kehidupan kita. Namun ajaibnya Allah SWT selalu memberikan kesempatan kepada kita untuk melakukan perbaikan diri secara kontinyu sampai suatu saat kelak Allah SWT mengambil kembali apa yang telah dititipkannya kepada kita sebagai makhluk ciptaannya. Dan Allah SWT telah berjanji dalam Surat Cinta-Nya/ kitab suci Al-Qur’an yang terdapat dalam surat An-Najm (53): 24-25, Surat An-Najm (53): 39-45, dan Surat Asy-Syura (42): 36, antara lain:

  •  Dalam Surat An-Najm (53): 24-25, Allah SWT berfirman:
24. Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya?

25. (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia.

  •   Dilanjutkan dalam Surat An-Najm (53): 39-45, Allah SWT berfirman:
39. dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,

40. dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).

41. Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna,

42. dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu),

43. dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,

44. dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan menghidupkan,

45. dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita.

  •  Dalam Surat Asy-Syura (42): 36, Allah SWT berfirman :
36. Maka sesuatu yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal.

Ketika saya membaca beberapa potongan ayat di atas saya mulai merenung akan eksistensi sebuah penciptaan. Ayat-ayat tersebut seakan-akan memberikan jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang bercokol di kepala saya saat itu. Sampai saat ini pun ayat-ayat di atas tetap menjadi sebuah mata air inspirasi dan motivasi tersendiri buat saya dalam mengarungi lika-liku kehidupan ini. Ada saat kita diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk berada dipuncak kejayaan, namun suatu waktu Allah SWT meletakkan kita pada titik terendah agar kita mulai menyadari kelemahan-kelemahan yang ada pada diri kita sebagai makhluk ciptaan-Nya dalam pandangan Allah SWT.  

Sebagai contoh ketika saya mulai belajar menulis sebuah karya ilmiah yang sering disebut oleh orang-orang akademisi dengan sebutan ”Skripsi”. Sebelumnya saya cukup  tertarik dengan dunia akademisi, namun dari awal kuliah saya lebih sering memfokuskan diri untuk mencari nilai-nilai intergritas dalam diri dan bagi saya hal itu lebih berharga dibanding ketika saya mendapatkan nilai A pada bebepara mata kuliah. Bagi saya kuliah bukanlah hanya semata mencari nilai, namun ada hal yang lebih berharga untuk dikembangkan yaitu Ilmu dan aplikasi terhadap ilmu tersebut dalam dunia nyata untuk mengharapkan keridhoan Allah SWT, walaupun saya harus berjuang dibalik kerumunan orang-orang yang hanya menghargai nilai semata tanpa melihat dan menghargai proses pencapaian ilmu itu sendiri untuk mengharapkan keridhoan Allah SWT semata. Ada saatnya saya terjatuh dan memberanikan diri untuk bangkit kembali, jatuh lagi bangkit lagi, jatuh lagi bangkit lagi karena saya pernah membaca nilai-nilai yang di ajarkan oleh Konfusius bahwa: jika kita gagal, maka bangkitlah dua kali lebih banyak dari kegagalan kita. Nilai-nilai ini cukup mewarnai semangat saya dalam memfokuskan diri pada sebuah pencapaian.

Pada saat saya mulai melakukan penelitian dilapangan, ada banyak hal yang mulai saya pelajari dan bahkan ilmu yang saya dapatkan dilapangan lebih rill dari pada teori-teori yang saya pelajari di dunia akademisi. Saya tak mengatakan teori itu kurang bermanfaat namun justru dengan mempelajari teori-teori maka kita dengan lebih mudah mulai belajar mengaplikasikan teori tersebut dalam kehidupan rill serta belajar mengklasifikasikan setiap kasus-kasus yang ada dilapangan berdasarkan keilmuan yang kita miliki, serta berusaha mencari solusi dari setiap permasalahan yang kita temui.

Pada saat melakukan penelitian saya cukup bersemangat dalam mengumpulkan data-data dilapangan, namun   maaf  ketika saya dihadapkan pada sebuah proses penulisan saya mulai bertanya dalam hati ”Ya Allah apakah saya memiliki bakat dalam menulis?” tak jarang saya mengalami kendala ketika saya berhadapan dengan Lap Top yang masih menggunakan aplikasi microsoft word 2003 dan ketika melihat lembaran putih yang masih kosong, terkadang saya hanya mampu menulis satu paragraf dalam waktu satu jam...(Oh My God, How Foolish I am in Your Eyes). Saya mulai bertanya pada diri saya sendiri, apa yang salah pada saya selama ini dalam bidang penulisan? Tiba-tiba saya teringat akan perkataan Pak Taufiq Ismail yang pada tanggal 19/8 beberapa tahun silam, beliau pernah menjadi salah seorang nara sumber dalam rangka memperingati hari kelahiran tokoh nasional Muhammad Hatta di UNAND. Pada saat itu Pak Taufiq Ismail berkata bahwa para calon-calon akademisi saat ini banyak dari meraka yang ”rabun membaca, lumpuh menulis”. Saya mulai mencerna kata-kata itu satu persatu dan mulai bertanya pada diri sendiri, ”Saya cukup melek membaca, namun maaf saya akui kalau saya juga cukup lumpuh dalam menulis”. Sebanyak apapun seminar yang saya ikuti dalam dunia penulisan tetap belum mampu menggerakkan hati saya untuk menyelami dunia penulisan. Sampai akhirnya tibalah saatnya saya dihadapkan dalam sistem akademisi yang mewajibkan setiap mahasiswa akhir untuk menulis sebuah karya ilmiah. Karya ilmiah yang bernama ”skripsi” tersebut menjadikan sebuah momentum untuk memaksa saya agar mengeluarkan seluruh potensi yang pernah saya pelajari dalam bidang keilmuan yang saya geluti dan terendap dalam software ingatan selama ini. Dalam sebuah proses pembelajaran tersebut saya baru mulai menyadari bahwa sekecil apapun karya tulis patut untuk dihargai selagi karya tersebut bermanfaat dan mengandung kemaslahatan bagi banyak orang. 

Suatu ketika saya berkesempatan berdiskusi dengan seorang dosen antropologi bernama Pak Bambang Rudito, beliau cukup aktif dalam melahirkan karya-karya tulis dalam bidang ilmu sosial. Suatu kali beliau berkelakar ”kebanyakan mahasiswa S1, S2, atau S3 terkadang hanya menghasilkan karya pada saat ujian akhir saja setelah menyelesaikan program studi tersebut mereka pun sudah tidak berkarya lagi”, ketika mendengarkan perkataan tersebut, saya pun mulai membenarkan dalam hati ”benar juga ya, apakah saya termasuk salah satu bagian dari mereka? Yang setelah menamatkan program studi S1 kemudian berhenti berkarya dalam bidang penulisan (semoga tidak)”. Bagi saya ilmu yang saya dapatkan pada saat menyelesaikan program studi S1 amat lah sedikit, dan saya menyadari sesadar-sadarnya bahwa di atas langit masih ada langit dan hal tersebut menjadi sebuah motivasi tersendiri bagi saya untuk selalu melakukan perbaikan terus-menerus dan memberikan yang terbaik bagi kehidupan yang dianugerahkan oleh Allah SWT ini.

Entah kenapa beberapa bulan belakangan ini saya mulai tertarik dalam bidang penulisan mungkin karena sebuah kondisi yang memaksakan diri saya agar kembali berkarya dalam bidang penulisan. Seperti halnya sebuah sistem akademisi yang memaksa mahasiswa untuk berkarya diakhir masa studinya demi membekukan keilmuan yang telah mereka peroleh selama beberapa tahun menempa diri dalam menggali potensi. Namun untuk kali ini paksaan itu bukanlah datang dari luar namun dari dalam diri saya sendiri yang mulai menyadari akan pentingnya membekukan sebuah kenangan, pengalaman-pengalaman, ilmu-ilmu yang pernah diperoleh, dan lain sebagainya. Karena dari sebuah karya tulis, kita tak pernah tahu pada titik mana para pembaca akan tersentuh dari setiap karya tulis yang kita hasilkan. Mungkin dari setiap karya-karya tulis yang pernah saya baca, baik di dunia nyata berupa Kitab suci Al-Qur’an, buku-buku, novel-novel, koran-koran, majalah-majalah, tabloid-tabloid, dll... atau artikel-artikel dan catatan-catatan inspiratif di dunia maya, tak semuanya terserap dengan baik dalam software ingatan yang memiliki keterbatasan ini, namun dari proses membaca karya-karya inspiratif tersebut mulai memberikan efek positif dalam melakukan perubahan pada paradigma berfikir kita yang selama ini selalu membutuhkan up-grade dari bacaan-bacaan yang mencerahkan paradigma berfikir kita baik dari ilmu-ilmu, kisah-kisah, pengalaman-pengalaman, dsb... yang menyentuh hati dan memberikan oase kesegaran pada si pembaca yang melakukan interaksi dengan bacaan-bacaan yang lahir dari buah karya penulis-penulis yang ikhlas dalam berbagi ilmu yang bermanfaat bagi kemaslahatan orang banyak. Karena menurut saya ketika Allah SWT telah menitipkan ilmu kepada kita melalui usaha yang kita peroleh dalam menuntut ilmu maka hal itu merupakan tanggung jawab moril buat kita untuk menyebarkan ilmu yang dititipkan oleh Allah SWT tersebut kepada kita agar manfaat dari keilmuan yang kita miliki itu dapat dirasakan berkahnya oleh banyak orang.

Bahkan tak sedikit keterangan-keterangan yang di dapat, baik dalam Al-Qur’an maupun Hadits yang mengandung motivasi dan hikmah bagi para penuntut ilmu.

Salah satu ayat yang terdapat dalam kitab suci Al-Qur’an tentang keistimewaan orang-orang yang beriman dan berilmu terdapat pada surat Al-Mujaadilah [58]: 11, Allah SWT berfirman:

11. Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: ”Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: ”Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Dalam beberapa hadits Nabi Muhammad SWT juga pernah Bersabda, bahwa:

1. Abu Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah saw. Bersabda, ”Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu pengetahuan, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” HR.Muslim.

2. Abu Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah saw. Bersabda, ”Barangsiapa yang mengajak orang kepada suatu jalan yang baik, maka ia mendapat pahala sebanyak pahala pengikutnya dengan tiada mengurangi sedikit pun dari pahala mereka sendiri.” HR. Muslim.

Bahwa Rasulullah saw. Bersabda, ”jika seorang manusia mati, maka terputuslah amal usahanya sendiri kecuali tiga perkara: sedekah yang berjalan terus. Ilmu pengetahuan yang bermanfaat dan anak yang shalih yang selalu mendo’akan padanya.” HR. Muslim.

3. Anas ra. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, ”Barangsiapa yang keluar untuk menuntut ilmu maka ia berjuang fisabilillah hingga kembali.” HR. At Tirmidzi.

4. Abu Darda’ra. mendengar bahwa rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa yang melalui suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. Para malaikat selalu meletakkan sayapnya menaungi para pelajar karena senang terhadap perbuatan mereka. Dan orang berilmu dimintakan ampunan oleh penghuni langit dan bumi, serta ikan-ikan di dalam air. Kelebihan seorang berilmu atas ahli ibadah bagaikan kelebihan sinar bulan atas bintang-bintang lain. Sesungguhnya para guru adalah sebagai pewaris nabi. Sesungguhnya nabi tidak mewariskan uang dinar atau dirham. Hanya mewariskan ilmu agama. Barangsiapa yang telah mendapatkannya berarti telah mengambil bagian yang besar.”HR. Abu Daud dan At Tirmidzi.

5. Abdullah bin Amru bin Al Ash ra. berkata: Aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda, ”Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu pengetahuan dari orang-orang begitu saja, tapi akan mencabutnya dengan matinya orang-orang alim, hingga apabila telah habis orang-orang alim maka orang-orang akan mengangkat orang-orang bodoh untuk memimpin mereka, maka jika ditanya: Akan memberikan fatwanya tidak berdasarkan ilmu pengetahuan (akan menjawab dengan kebodohan) hingga sesat dan menyesatkan.” HR. Bukhari dan Muslim.

Dikutip dari: Riyadush Shalihin, yang diterjemahkan oleh Abu Fajar Al-Qalami & Abdul  Wahid Al Banjary, Penerbit Gitamedia Press, 2004.

Kutipan ayat maupun hadits di atas bisa menjadi satu perenungan bersama bagi kita bahwa Allah SWT sangat memuliakan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang menuntut ilmu dan menempatkan mereka pada posisi yang lebih tinggi beberapa derajat.

Semoga tulisan ini bisa memberikan inspirasi tersendiri bagi kita untuk senantiasa memotivasi diri ke arah yang lebih baik ke depannya. Tak ada satupun orang yang bisa memotivasi Anda jika Anda menutup diri dari ilmu pengetahuan, namun Anda lah yang bisa dan bertanggung jawab sepenuhnya memotivasi diri Anda jika Anda membuka diri pada perubahan yang merupakan sebuah keniscayaan, tentunya perubahan kearah yang lebih baik, Aamiiin... :)  

*****

Renungan:
Hidup akan selalu berputar mengikuti roda zaman. Dan kita merupakan partikel-partikel kecil yang menjadi bagian dari ke-Maha Dahsyatan Penciptaan Allah SWT yang Maha Kuasa dalam menciptakan apa-apa yang dikehendaki-Nya, Subhanallah. -Rahmi Chitra Saumy-


Bukittinggi, Senin 3/1/2011.